Peranan Media Baru Terhadap Proses Perubahan Perilaku Masyarakat

by Aug 21, 2023Opini0 comments

Oleh: Intiha’ul Khiyaroh, M.A. (Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan)

Gambar Ilustrasi (Sumber: https://gurudikdas.kemdikbud.go.id/)

Pesan yang terkandung dalam konten media tidak jadi begitu saja, melainkan pesan tersebut dibuat dan diciptakan oleh media. Media massa tidak hanya memberikan informasi atau hiburan semata melainkan juga mengajak khalayak untuk melakukan perubahan. Tindakan tersebut disadari atau tidak oleh khalayak tapi tindakan atau prilakunya sudah menikuti trend yang ada di media massa. Pembuat konten menciptakan beragam konten media yang khas dan unik sehingga pesan-pesan yang ditampilkan oleh media terlihat sangat menarik, menimbulkan rasa penasaran khalayak dan ingin mengikutinya.

Hubungan antara media massa dan khalayak dibangun melalui pesan media. Perlu kita ingat bersama bahwa media memiliki prinsip dasar bahwa semua pesan media dibangun, setiap media memiliki karakteristik, kekuatan dan keunikan membangun bahasa yang berbeda, pesan media diproduksi untuk suatu tujuan, semua pesan media berisi penanaman nilai dan tujuan yang ingin dicapai, manusia mengggunakan kemampuan, keyakinan, dan pengalaman mereka untuk membangun arti pesan media, media dan pesan dapat mempengaruhi keyakinan, dan pengalaman mereka untuk membangun sendiri arti pesan media.

Cara pandang seseorang terhadap pesan media massa menentukan pula cara dia menyikapi setiap pesan yang datang kepadanya dan bagaimana dia bersikap. Pada media baru berbagai aplikasi baru muncul dengan menawarkan banyak sekali kemudahan cara pemakaian serta ditawarkannya harga yang terjangkau membuat masyarakat beralih dalam mengkonsumsi media. Sering kali ketika disodorkan iklan pakaian dengan komitmen yang ditawarkan akan menjadi menarik, terlihat anggun, nyaman dipakai dan disukai banyak orang. Namun kemudian ternyata realias yang ditampilkan iklan di media baru yang berada dalam genggaman manusia tak seindah dengan kenyataan pada saat barang itu datang di tangan.

Mengutip dari media online Kompas.com TikTok menjadi salah satu media baru dengan pengguna 113 juta per April 2023. Jika mengamati di sekeliling kita maka aplikasi tersebut sering digunakan oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Berbagai macam konten kekinian dan penawaran fitur belanja dengan menampilkan barang dagangan di live “real picture” membuat penonton yang awalnya tidak memiliki keinginan untuk membeli berubah dari penasaran, mencari tahu dan akhirnya membeli barang yang diiklankan di media baru tersebut dengan alasan mumpung murah, barang diskonan, dan mumpung ada.

Pada kondisi ini sering kali persepsi khalayak dibentuk oleh pesan media, gambaran realita yang diampilkan di berita, iklan dan konten-konten yang tersebar di media membentuk persepsi terhadap sebagian orang tentang cara dia memandang dunia nyata. Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan Baran bahwa kebanyakan apa yang terjadi di otak kita tidak penah kita sadari. Walaupun aktivitas ini sering kali mempengauhi pikiran sadar kita, hal tersebut tidak secara lansung mempengaruhi proses kognitif lainnya. kesadaran kita bertindak sebagai pengawas tertinggi dari aktivias kognitif ini, tetapi hanya mampu mengontrol secara terbatas dan tidak langsung (Baran, 2010:311).

Sering kali kita temukan dalam kehidupan social yaitu realias media yang dibentuk dalam alam sadar seseorang diterapkan dalam dunia nyata. Kekerasan yang terjadi pada anak-anak akibat menonton dan main game atau konten kekerasan di media secara sadar diprakekkan dalam dunia nyata. Dua contoh prilaku manusia yang terkontaminasi dari media. Maka apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya dampak buruk dari adanya media baru adalah pendidikan literasi media yang dihadirkan guna memberikan wawasan pengetahuan sekaligus skill atau keterampilan kepada penguna media untuk mampu memilah dan menilai isi media massa yang dapat dipakai sekaligus juga berpikir secara kritis. Pengguna media tidak lagi dapat mempercayakan keberadaan media sebagai penjaga gawang konten media, tetapi fungsi penjaga gawang kini harus berpindah kepada khalayak itu sendiri selaku individu, orang tua, dan kelompok social di masyarakat.