Mental Disorder Pada Wanita: Mengenal Gejala Hingga Faktor Penyebabnya

by Jul 20, 2023Opini0 comments

Oleh: Zaimatur Rofiah, M.A.
(Dosen Tetap IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan)

(Sumber gambar: Freepik.com)

Seorang ibu dan anak perempuannya yang masih berusia 9 tahun ditemukan tewas di dalam kamar rumah orang tuanya di Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap. Polisi menduga keduanya tewas bunuh diri (Baca artikel detikjateng, “Tragis Ibu-Anak Tewas dalam Kamar Diduga Bunuh Diri di Cilacap“.

Lagi-lagi kita mendengar berita miris semacam ini. Kenapa saya katakan miris? Bagaimana tidak! Ibu mengajak putrinya untuk bersama-sama mengakhiri hidup. Terlepas dari apapun masalahnya, mental korban dapat dikatakan sedang berada dalam kondisi tidak baik-baik saja (mental illness). Isu mental health itu jelas adanya dan perlu perhatian. Di zaman sekarang, sudah saatnya kita untuk mengetahui dan memerhatikan lebih mendalam tentang isu kesehatan mental, termasuk adanya gangguan mental pada wanita.

Gangguan mental bisa menyerang siapa saja, dari berbagai usia, dan tidak terbatas pada jenis kelamin. Baik pria maupun wanita sama-sama berpotensi untuk alami gangguan mental. Hanya saja, masing-masing punya kecenderungan tertentu.

Menurut Psychology Today, sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan gangguan mental lebih sering terjadi pada wanita.

Gangguan mental itu sendiri banyak jenisnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, gangguan mental terdiri dari berbagai masalah dengan gejala yang berbeda-beda. Namun, mereka umumnya dicirikan oleh beberapa kombinasi pemikiran abnormal, emosi, perilaku, dan hubungan dengan orang lain.

Gejala gangguan mental pada wanita seperti yang dilansir di situs Orami.co.id sebagai berikut:

1. Kesedihan Tanpa Sebab

Wanita lebih rentan mengalami penyakit mental internal, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Disebutkan penyakit internal karena lebih mengarah pada penarikan diri, terlalu banyak merenung, sering merasa sepi, dan sedih yang berlarut-larut. Menurut Dr. Jeanne Conry dari American College of Obstetricians and Gynecologists wanita sering merasa baik-baik saja padahal mereka sudah memiliki gejala dari gangguan mental. Wanita kerap kali tidak mengedepankan hal tersebut dan memilih untuk menahannya

Ciri utama gangguan mental pada wanita adalah terus-menerus merasa sedih tanpa sebab. Tentu saja, wajar ketika bersedih dan itu adalah emosi yang lumrah. Rasa sedih yang wajar ketika ada pemicunya. Termasuk jika masih mampu mengatasi rasa sedih dan dapat menyesuaikan diri, maka itu bukanlah gangguan mental.

Menurut Psychology Today, kesedihan akan jadi gejala dari gangguan mental ketika mempengaruhi pikiran, emosi, persepsi, dan perilaku kita. Hal ini terjadi secara kronis sehingga wanita merasa sedih tentang segalanya.

Selain itu, wanita kerap menarik diri dan pikiran dipenuhi dengan pendapat negatif tentang diri sendiri. Tidak membutuhkan peristiwa atau situasi pemicu, rasa sedih itu akan muncul dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Jika gejala ini sedang anda alami, sebaiknya segera cari pertolongan pada psikolog karena menjadi ciri gangguan mental.

2. Selalu Merasa Khawatir

Rasa khawatir bisa muncul dari waktu ke waktu. Namun, ketika rasa khawatir muncul secara konstan dan mengganggu sepanjang waktu, maka anda harus waspada. Gejala lainnya yang mengikuti seperti sesak napas, sakit kepala, gelisah, jantung berdebar-debar, dan alami diare.

3. Perubahan Suasana Hati yang Cepat

Suasana hati seseorang memang tidak bisa melulu sama. Namun, perubahan suasana hati yang tiba-tiba dan terjadi secara dramatis, bisa menjadi gejala dari gangguan mental pada wanita. Misalnya adalah kemarahan yang ekstrem dan kemudian tiba-tiba merasa sedih serta tertekan.

4. Alami Masalah Tidur

Umumnya, kita membutuhkan 7-9 jam tidur setiap malam. Perubahan pola tidur yang berkelanjutan juga bisa menjadi tanda seseorang mengalami penyakit mental. Begitu pula kebalikannya, kebiasaan kurang tidur berisiko sebabkan penyakit mental.

Dr. Andrew McClintock-Greenberg seorang dokter spesialis paru dari Sutter East Bay Medical Foundation mengatakan bahwa kualitas tidur yang buruk dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan masalah kesehatan. Di antaranya adalah diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, obesitas hingga alami depresi. Kombinasi gejala-gejala di atas bisa jadi gejala dari gangguan mental pada wanita. Hal ini bisa diperparah dengan perubahan nafsu makan yang disertai penurunan berat badan yang cepat.

Seseorang yang alami gangguan mental juga cenderung tergantung pada zat-zat tertentu, seperti alkohol atau obat-obatan.

Jenis Gangguan Mental pada Wanita

Berbicara tentang gangguan mental pada pria dan wanita, masing-masing bisa mengarah pada penyakit mental tertentu.

Hal ini diungkapkan pada studi yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA). Studi tersebut mengungkapkan tentang prevalensi berdasarkan jenis kelamin dari berbagai jenis penyakit mental umum.

Hasil dari studi tersebut adalah wanita memang lebih mungkin untuk didiagnosis dengan gangguan kecemasan (anxiety disorder) atau depresi. Sementara pria cenderung melakukan penyalahgunaan zat (substance abuse) atau gangguan antisosial (antisocial disorder).

Semua kembali pada jenis gangguan mental yang dialami. Beberapa gangguan mental lebih rentan dialami wanita, beberapa lainnya lebih sering dialami oleh pria. Namun, National Institute of Mental Health mengungkapkan gangguan mental seperti gangguan bipolar dan skizofrenia tidak dapat ditentukan paling banyak dialami pria atau wanita.

Adapun beberapa gangguan mental pada wanita, yaitu:

1. Depresi

Depresi adalah gangguan mental pada wanita yang paling umum terjadi. Harvard Health Publishing mengungkapkan, wanita memiliki risiko dua kali lebih besar untuk mengalami depresi berat dibandingkan pria. Bukan karena anggapan bahwa wanita lebih emosional, namun ada beberapa faktor yang mendasarinya.

Karina Davidson, profesor kedokteran dan psikiatri di Columbia University Medical Center mengatakan wanita yang memiliki riwayat anggota keluarga mengalami depresi akan lebih berisiko. Selain itu, ketika wanita punya riwayat pelecehan atau tekanan hidup baru-baru ini atau isolasi sosial yang ekstrem, maka berisiko lebih tinggi mengalami depresi.

Wanita juga lebih mungkin mengalami beberapa jenis stres berat, seperti pelecehan seksual anak, kekerasan seksual orang dewasa, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Faktor lainnya yang juga turut berperan adalah perubahan hormonal terutama saat hamil dan melahirkan.

2. Gangguan Kecemasan

Melansir dari Women’s Healthanxiety disorder atau gangguan kecemasan juga sering dialami oleh wanita dan bisa menjadi gangguan mental pada wanita. Gangguan kecemasan ini juga ada banyak jenisnya, di antaranya general anxiety disorder (GAD), gangguan panik, fobia sosial atau fobia terhadap hal-hal lainnya.

Gangguan obsesif kompulsif (OCD) dan post-traumatic stress disorder juga bisa dikatakan masuk ke dalam gangguan kecemasan. Penyebab pastinya memang tidak bisa ditentukan, namun beberapa faktor bisa jadi pemicunya. Di antaranya seperti peristiwa traumatis, faktor genetik, dan hormonal. Gangguan kecemasan bukan hanya ditandai dengan rasa takut saja.

Gangguan kecemasan bukan hanya sekadar rasa khawatir sementara. Rasa cemas dan khawatir itu tidak bisa hilang dan bisa memburuk dari waktu ke waktu. Selain itu, bisa juga muncul serangan panik yang terjadi tiba-tiba dan tanpa peringatan

3. Gangguan Makan

Eating disorder atau gangguan makan seperti anoreksia nervosa, bulimia, dan binge eating nyatanya lebih sering dialami oleh wanita.

American Psychiatric Association mengungkapkan gangguan makan adalah penyakit ketika anda mengalami gangguan parah dalam perilaku makan dan berkaitan dengan emosi seseorang. Bisa dikatakan, orang yang depresi juga bisa mengalami gangguan makan.

Eating disorder nantinya bisa berhubungan dengan gangguan mental pada wanita lainnya, yaitu borderline personality disorder atau gangguan kepribadian ambang.

Dr. Catherine Preston dari Departemen Psikologi di York University, Inggris mengatakan bahwa wanita lebih rentan mengalami gangguan makan karena mereka lebih rentan terhadap ketidakpuasan tubuh. Ketika muncul persepsi negatif tentang penampilan fisik dan ditambah dengan tekanan sosial, maka bisa meningkatkan risiko alami gangguan makan.

Gangguan mental pada wanita yang umum terjadi dan mudah diketahui orang adalah gangguan kecemasan dan depresi.

National Institute of Mental Health juga menyebutkan bahwa gangguan mental tersebut lebih sering dialami oleh wanita. Sayangnya, masih banyak wanita yang tidak menyadari hal tersebut.

Adapun beberapa faktor pemicu wanita lebih mudah terserang depresi dan kecemasan dibandingkan pria, yaitu:

1. Masalah Hormon

Psychology Today mengungkapkan, baik pria dan wanita memiliki masing-masing hormon dalam tubuh, namun jumlahnya saling berbeda. Perbedaan hormon tersebut nyatanya dapat berkontribusi pada penyakit mental. Wanita, cenderung menghasilkan jumlah serotonin lebih rendah daripada pria. Kekurangan serotonin terlibat dalam sejumlah gangguan mental, terutama depresi dan kecemasan.

Selain itu, ketika wanita hamil dan melahirkan juga dapat menyebabkan fluktuasi hormon, sedangkan pria tidak mengalaminya.

2. Diskriminasi dan Trauma

Berbicara tentang trauma, tidak dapat dipungkiri bahwa wanita lebih sering mengalaminya. Sehingga, trauma dapat memicu gangguan mental pada wanita. Trauma juga merupakan faktor risiko untuk sejumlah penyakit mental, salah satunya adalah post-traumatic stress disorder (PTSD).

Begitu juga dengan diskriminasi gender, kekerasan gender, dan perlakuan buruk terhadap wanita bisa melemahkan kesehatan mental.

Jadi, sudah waktunya kita untuk peka terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Mungkin saja diri kita sendiri atau orang terdekat mengalami gangguan kesehatan mental, dan kita tidak menyadarinya. Itulah gejala, jenis, dan pemicu gangguan mental pada wanita. Tetap perhatikan kesehatan tubuh dan jiwa agar terhindar dari gangguan mental tersebut.