Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Madrasah dan Ponpes melalui OPOP

by Dec 17, 2022Berita

IAI TABAH–IAI Tarbiyatut Tholabah menyelenggarakan program pendampingan pemberdayaan masyarakat berbasis Madrasah dan Pondok Pesantren melalui One Pesantren One Product (OPOP) dengan melibatkan tiga pondok pesantren di wilayah pantura, yakni PP. Raudlatut Thullab, PP. Maslakul Huda, dan PP. Mazraatul Ulum. Ketiganya merupakan Lembaga Pendidikan Islam yang memiliki potensi ekonomi beragam yang patut diperhitungkan, akan tetapi belum terlibat dalam keanggotaan OPOP. Acara yang dilaksanakan Sabtu (17/12/2022), mengundang tiga narasumber yang kompeten dan berpengalaman di OPOP dan komunikasi media.

Acara ini berlangsung di ruang kelas prodi Ekonomi Syariah lantai 2 IAI TABAH dan dihadiri oleh tim dosen IAI TABAH penerima dana hibah Litapdimas TA 2022 PKM berbasis madrasah dan pesantren (Ketua Bu Dini Amalia, Anggota Bu Shofiyah, Bu Sifwatir Rif’ah, dan Bu Aida). Acara ini bertujuan untuk memperjelas pemahaman tentang OPOP dan pentingnya bergabung dan terlibat dalam OPOP bagi ketiga pesantren tersebut. OPOP selain merupakan wadah bagi pemasaran produk-produk pesantren, juga menjadi forum networking bagi ponpes untuk semakin memperluas jaringan, baik rekanan bisnis maupun kesempatan untuk pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki.

Acara dilaksanakan dengan melibatkan tiga ponpes pantura yang memiliki potensi usaha cukup besar, tetapi belum masuk OPOP. OPOP sendiri memiliki tiga pilar, yakni santripreneur, pesantrenpreneur, dan sociopreneur. Dengan mensinergikan tiga pilar pendukung tersebut, harapannya ketiga ponpes yang sudah memiliki potensi usaha, yakni PP. Raudlatut Thullab dengan usaha kaos sablon, PP. Mazraatul Ulum dengan usaha produk Batik, dan PP. Maslakul Huda dengan produksi snack/cemilan dapat semakin mengembangkan potensi usahanya dan mampu meningkatkan kesejahteraan bagi santri, pesantren, dan socio/masyarakat di sekitar pondok pesantren.   

Acara dibagi menjadi 2 sesi. Sesi 1 adalah sesi materi dengan tiga narsum: Pemateri pertama adalah Enterpreneur dan Sekretaris OPOP Lamongan, M. Zainuddin Alanshori, S.H.I., M.H.I., M.Pd menyajikan materi tentang Deskripsi seputar OPOP, Strategi masuk OPOP, dan kiat mengenali dan mengembangkan potensi ekonomi Pondok Pesantren

“Sukses itu tidak mengenal usia. Semua bisa terwujud bukan karena bakat, tetapi karena tekad. Dengan tekad yang kuat, kita bisa wujudkan apa yang kita cita-citakan,” ujar Zainuddin mengawali materinya.

“Dalam OPOP, ada tiga pilar penting yang harus bersinergi yaitu santripreneur, pesantrenpreneur, dan sociopreneur. Dengan melibatkan potensi dari santri, pesantren, dan masyarakat/alumni (socio), sinergitas yang baik dari ketiganya akan mampu meningkatkan kesejahteraan bagi semua unsur. Karena memang salah satu focus tujuan OPOP adalah memberikan kesejahteraan bagi semua pihak, terutama tiga pilar tersebut.”

Pemateri kedua yaitu anggota OPOP Batch 1, Pengusaha Batik Lamongan, dan Kaprodi Ekonomi Syari’ah IAI Tarbiyatut Tholabah, Sifwatir Rif’ah. S.E., M.M sharing tentang manajemen keuangan, keanggotaan dan fasilitas dalam OPOP

“Dengan masuk dan menjadi anggota OPOP, kita akan mendapatkan fasilitas-fasilitas yang jauh lebih besar, salah satunya sering mendapatkan info tentang pelatihan atau workshop berkaitan dengan pengembangan kualitas produk dan ekonomi pesantren, peluang pemasaran produk yang lebih luas bahkan sampai ekspor ke luar negeri,” terang Sifwatir.

Pemateri ketiga oleh Dosen KPI IAI TABAH, Musrifah, M.Med.Kom yang juga seorang penulis dan aktivis media sosial. Pemateri terakhir ini memaparkan tentang marketing dan packaging produk online.

“Cari dan kenali factor X dari potensi produk yang berbeda dari produk lain. Pahami target pasar dan selalu update dengan strategi marketing dan packaging yang kekinian, agar semakin menarik bagi konsumen,” papar Musrifah.

Ketua Tim, Dini Amalia, menambahkan bahwa OPOP adalah salah satu pintu utama untuk semakin membuka peluang dan kesempatan besar bagi pondok pesantren untuk mengembangkan produk dan bersaing di pasar dunia.”

Apapun Sesi 2 adalah pendampingan oleh tim dan narsum bagi ponpes tersebut meliputi sharing kendala yang dihadapi baik mengenai permodalan, sinergi antara tiga pilar OPOP, maupun pengembangan produk. Di sesi ini, ketiga ponpes diminta untuk membawa produk masing-masing untuk kemudian didampingi dan diberikan arahan mengenai packaging. Tim dampingan juga memberikan contoh kemasan dan label yang lebih menarik untuk menaikkan grade produk. (Dini/Hsn)