Ditulis oleh Nafilatur Rohmah, M.Pd*

Kesetaraan gender menjadi sesuatu yang selalu menarik untuk dibahas. Dewasa ini, kesetaraan gender semakin banyak berkembang pada banyak lini, hal ini dibuktikan dengan pemimpin perempuan yang semakin banyak bermunculan, perempuan menempati posisi karir strategis, perempuan memiliki jabatan politik, serta munculnya perempuan di ruang publik yang semakin tampak. Beberapa contoh pemimpin perempuan saat ini diantaranya Ibu Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, Ibu Khofifah Indar Parawansa sebagai Gubenur Jawa Timur, Ibu Ira Noviarti sebagai Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, termasuk Ibu Alimul Muniroh yang merupakan rektor perempuan dari kampus IAI TABAH.   

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi akademik anak perempuan dinilai lebih unggul daripada laki-laki. Rata-rata siswa yang mendapat prestasi secara akademik di bangku sekolah adalah perempuan. Begitu juga di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa dengan predikat lulusan terbaik lebih banyak kita temui adalah perempuan. Ada yang mengatakan, hal ini terjadi karena perempuan lebih rajin dibandingkan dengan laki-laki, sehingga prestasinya lebih unggul.

Kesetaraan gender yang terus diangkat membuat perempuan semakin berani memiliki ambisi untuk mencapai apa yang dicita-citakan, tidak takut mengambil peran yang besar, dan berani bersaing dengan laki-laki. Pemimpin perempuan dan munculnya perempuan di ruang publik saat ini memang masih sedikit jika dibandingkan laki-laki, tetapi semakin lama semakin banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, apalagi jika dibandingkan dengan masa RA Kartini, tentu sudah jauh berkembang. Saat ini, wawasan masyarakat semakin meningkat, perempuan tidak lagi harus memilih antara menjadi ibu rumah tangga atau bekerja, keduanya bisa dilakukan yang terpenting dapat menjaga keseimbangan antara bekerja dan keluarga.

Disisi lain, kesetaraan gender membawa dampak bagi laki-laki, ada kekawatiran yang muncul dari kesetaraan gender yang terus berkembang, stigma laki-laki sebagai kepala keluarga dan pemberi nafkah menjadi tanggung jawab yang tertanam pada diri laki-laki. Sedangkan saat ini, peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang strategis, laki-laki tidak hanya bersaing dengan laki-laki tetapi juga bersaing dengan perempuan. Keadaan ini menuntut laki-laki untuk terus mengupgrade kemampuan diri, karena posisi dan jabatan strategis tidak lagi di isi oleh kaum laki-laki saja tetapi juga berpeluang untuk perempuan, yang terpenting adalah memiliki kompetensi apapun jenis kelaminnya.

Di lingkungan keluarga, perempuan tidak lagi dianggap sebagai manusia nomor 2 yang hanya berdiam diri dan mengerjakan tugas rumah tangga. Saat ini banyak istri yang juga bekerja, suami dan istri yang sama-sama bekerja memiliki peluang untuk mencapai kesejahteraan keluarga yang baik. Seorang istri bisa berpeluang untuk berpenghasilan lebih tinggi dari pada suami, yang menjadi masalah adalah ketika istri berpenghasilan lebih tinggi dari suami dan tidak diimbangi dengan rasa pengertian dari istri maka dapat menimbulkan konflik dalam keluarga.

Selain itu, saat ini banyak perempuan-perempuan yang sangat menikmati berkarir diusia produktif hingga memilih untuk tidak berkeluarga, pasangan muda-mudi yang memilih untuk menikah tanpa memiliki anak karena menganggap memiliki anak adalah sesuatu yang rumit dan beban, ada juga perempuan yang sukses dalam berkarir tetapi tidak mampu menjaga keseimbangan keluarga, termasuk mendidik anak-anaknya karena lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja dibandingkan dirumah.

Jika yang terjadi demikian, lalu bagaimana keberlangsungan hidup manusia yang akan datang? Apakah nantinya kesetaraan gender ini akan menjadi bom waktu bagi perempuan dan laki-laki ataukah justru membawa ke arah yang lebih positif dalam sepuluh atau dua puluh tahun kedepan? Bagaimanakah caranya supaya kesetaraan gender ini membawa dampak yang positif bagi semua pihak? Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dari sekarang.

*Dosen dan Kaprodi Tadris Bahasa Inggris IAI Tarbiyatut Tholabah