Membiasakan Hidup Biasa-Biasa Saja

by Jan 12, 2022Opini

Manusia diciptakan berbeda-beda dengan jalan hidup yang berbeda pula. Semua telah digariskan oleh Sang Maha Kuasa. Ada yang karirnya lancar, ada yang tersendat-sendat. Kata ‘sukses’ sering didengar, dan dijadikan label untuk orang-orang yang berprestasi, seperti diraihnya status sosial, jabatan, pangkat, kekayaan dll. Dengan pencapaian itu semua tentu sah-sah saja kita merasa bangga. Sedangkan yang belum atau tidak mampu mencapai prestasi tersebut akan merasa iri, was-was, dan juga stres.

Tetapi ada juga, orang-orang dengan pencapaian karirnya justru merasa dirinya belum tenang, mungkin karena punya ambisi tetapi tak tercapai atau sedang terbelit hutang. Malah orang yang tinggal di desa hidup sederhana, menjalani hidup dengan tenang saja tanpa memikirkan ambisi duniawi, seakan di pikiran mereka sudah di set-up: “Yang penting hari ini berusaha, bekerja dan tidak lupa berdoa. Urusan hasil, serahkan sama Yang Di Atas”.

Pertanyaannya, mengapa ada orang yang merasa tidak tenang terhadap karirnya? Mengapa banyak orang-orang yang mengalami krisis karir sehingga merasa iri pada yang lainnya?

Alain De Botton, seorang filsuf berkebangsaan Prancis mengungkapkan, bahwa ada 3 masalah besar yang dihadapi manusia di zaman modern ini:

  1. Sifat Congkak

Menurut De Botton, kecongkakan sangat berkaitan dengan kehidupan yang semakin materialistis ini. Sering kali kecongkakan mengalir begitu saja dalam kehidupan sehari-hari dan telah menjadi kebiasaan. Misalnya di sebuah acara reuni atau terkadang saat pertemuan antara dua orang yang baru kenal, terdapat pertanyaan yang paling umum misalnya: kamu sudah lulus kuliah? sekarang bekerja sebagai apa? Sudah menikah? Sudah punya anak berapa? Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut De Botton termasuk bentuk dari sifat congkak di dunia modern.

Pertanyaan semacam itu sebenarnya sudah ada sejak dulu kala. Kalau dulu orang-orang lebih menunjukkan ‘power’ keluarga atau keturunan sehingga ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal bertanya dengan: kamu dari keluarga/keturunan siapa? Kemudian di zaman sekarang menjadi pertanyaan: kamu kerjanya apa?

Akibat dari congkak ini, seseorang yang karirnya bagus ia lebih berhak mendapat perhatian atau pujian dari orang-orang di sekitarnya. Sedangkan mereka yang statusnya ‘biasa-biasa saja’ tidak begitu diperhatikan. Kadang-kadang kita juga dibuat ‘munafik’, pada saat-saat tertentu kita menyatakan tidak suka dengan orang dengan status sosialnya lebih tinggi dari kita. Tetapi ketika ditakdirkan bertemu, kita justru ingin mereka suka kepada kita dan kita ingin diperhatikan oleh mereka.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hal yang sama dan masih ada sejak dulu hingga sekarang adalah kita sebagai manusia mempunyai semacam kebutuhan mendalam, ingin mendapatkan status yang lebih tinggi dari sebelumnya. Inilah mengapa banyak ditemukan, begitu mudah orang-orang menunjukkan pencapaiannya, memposting pencapaiannya di sosial media supaya mendapat penghargaan dan pengakuan dari orang lain. Padahal, menurut De Botton, justru hal-hal demikian bisa menjauhkan manusia dari makna hidup yang sebenarnya.

2. Kurang Kasih Sayang

Menyambung masalah yang pertama, masalah yang kedua ini adalah kurangnya sosok yang bisa menerima apa adanya. Adanya pencapaian karir yang dikatakan tidak begitu sukses dengan pekerjaan yang ala kadarnya, kita membutuhkan seseorang yang bisa menerima kita apa adanya layaknya sosok ideal seorang ibu dengan kasih sayang. Kenyataan yang ada di kehidupan ini banyak orang bertindak, menyediakan waktu, memberi kasih sayang, sekaligus rasa hormat semata-mata karena atas raihan prestasi yang telah dicapai. Bahkan di satu keluarga pun, kadang-kadang dijumpai orang tua yang kerap kali membeda-bedakan perhatian kepada anaknya sendiri karena suatu alasan.

Karena kurangnya kasih sayang ini, alih-alih mendengarkan pendapat orang lain yang sebenarnya tidak begitu penting, yang sebenarnya kita tidak begitu kenal dekat, atau bahkan sebenarnya kita tidak suka, malah justru kita ingin membuat mereka kagum kepada kita agar diterima di mata mereka. Seperti adanya orang yang membangga-banggakan status sosialnya, jabatannya, menunjukkan ‘keakuannya’ dsb. Berangkat dari sini kemudian kita sendiri akhirnya membanding-bandingkan pencapaian kita dengan orang lain yang lebih mentereng dibanding kita.

Akibat dari itu semua kemudian muncul rasa iri. Mengapa bisa muncul rasa iri? Hal ini terjadi karena faktor kedekatan hubungan, seperti kesamaan usia dengan teman kita yang dulu sama-sama pernah menjalani sekolah atau kuliah. Ketika sudah lulus dan bertemu kembali dalam reuni dengan pencapaian karir yang berbeda-beda, diakui atau tidak, pasti akan ada salah seorang yang merasa iri kepada teman-temannya yang lebih berhasil. Bisa dikatakan hubungan dekat tersebut mengandung arti yang lain yaitu adanya kesamaan peluang sekaligus terdapat perbedaan mendalam, sehingga pantas ada orang yang merasa iri.

Ditambah lagi ada pandangan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi apapun yang ia inginkan. Berbeda dengan zaman dulu yang masih ada sistem kasta, kehidupan sekarang lebih bebas dalam meraih tujuan hidup. Maka semua orang sah-sah saja berekspektasi mengejar cita-citanya, sehingga ia harus berupaya keras, bekerja dengan penuh waktu untuk meraihnya.

Tetapi menariknya, bagi De Botton, justru seseorang yang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memperoleh kekayaan, pamor, status agar orang lain kagum dengannya itu termasuk orang yang tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Orang-orang semacam ini lebih rentan terkena stres dan depresi.

3. Meritokrasi

Meritokrasi merupakan sistem yang mendasari sistem-sistem lain, termasuk sistem kapitalisme di dunia. Meritokrasi kurang lebih dapat dipahami dengan adanya reward yang berbanding lurus dengan value. Seseorang yang punya value tinggi akan mendapat reward yang besar. Semakin banyak usahanya, maka ia pantas mendapat hasil yang lebih banyak.

Hal demikian mengandung sisi positif, karena memberi kita kesadaran agar lebih giat bekerja, supaya mendapatkan keberhasilan yang kita inginkan. Banyak contoh di sana, orang-orang seperti: Elon Musk, Steve Jobs, Bill Gates dsb menjadi pelajaran sekaligus motivasi bagi kita agar tetap berusaha maksimal.

Namun sebaliknya, sistem meritokrasi juga memberikan opini atau implikasi bahwa jika terdapat orang yang gagal, maka ia pantas diganjar demikian karena ulah dirinya sendiri. Jika seseorang bangkrut dan jatuh miskin, ya karena memang ia pantas dapat demikian. karena kamu tidak bersungguh-sungguh dan tidak berupaya maksimal, ya begini jadinya, kira-kira seperti ini.

Sisi negatif inilah yang menjadi kekhawatiran sekaligus momok menakutkan bagi sebagian orang. Pandangan dari sistem ini kemudian masyarakat memberi judgment ‘sukses’ atau ‘gagal’ pada seseorang. Walaupun terkadang kegagalan juga bisa berasal dari faktor yang lain. Namun alangkah baiknya, disaat kita mengalami keterpurukan kita tetap berupaya daripada hanya berdiam diri dan mengeluh.

Dari ketiga masalah tersebut, banyak sekali orang yang mengejar kesuksesan. Iya, mengejar sukses secara materialistis tanpa memikirkan makna ia sebenarnya melakukan itu semua untuk apa. Semestinya kita harus bertanya pada diri sendiri, selama hidup ini yang kita lakukan sebenarnya untuk apa?

Sebaiknya kita menjalani hidup biasa-biasa saja. Kita harus bersyukur bisa hidup di zaman yang serba tersedia ini, dibandingkan dengan hidup berpuluh tahun atau beratus tahun yang lalu. Memang apa yang kurang di kehidupan zaman ini? Sudah tersedia informasi dan teknologi, beraneka ragam jenis makanan, obat-obatan, pekerjaan apapun yang penting halal dsb.

Kalaupun memang ada yang ingin hidup secara extra-ordinary, berekspektasi tinggi mengejar ambisi, mengejar target berikutnya untuk kenaikan pangkat atau jabatan dsb, itu semua juga tidak salah. Tapi kembali lagi ke pertanyaan hal itu semua sebenarnya untuk apa? Jika memang ambisi itu sampai merugikan diri kita, jangan-jangan kita ini memang harus hidup secukupnya dan biasa saja.

Maka dari itu, hidup yang bermakna bukanlah berasal dari kemapanan, kekayaan, status, jabatan dan sukses-sukses secara materi yang lainnya. Tapi hidup bermakna itu datang dari sikap kita mengapresiasi hal-hal yang sebenarnya terlihat kecil atau remeh di sekitar kita, seperti waktunya bekerja ya kerja, waktunya libur ya berlibur, bersantai, berkumpul dengan keluarga, menjalin persahabatan, bisa makan, bisa ngopi dll.

Menurut penulis, sangat perlu kita merenungkan dawuh Gus Baha’ sebagaimana berikut:
“Kalau saya dikatakan mulia, lalu banyak orang yang mencium tangan dan hormat pada saya sehingga saya harus menikmati itu, maka itu adalah hal yang BODOH. BODOH SEKALI! Yang seharusnya saya nikmati adalah saat saya makan, karena makan itu urusannya nyawa.

Si A jadi presiden itu adalah prestasi, tapi tetap dia butuh makan. Nanti kalau sudah tidak jadi presiden, ya dia tetap butuh makan juga. Jadi sebenarnya yang dinamakan prestasi itu ya BISA MAKAN. Karena makan itu ‘nyambung nyawa’. Kita jadi angkuh karena menghitung nikmat yang besar-besar seperti punya prestasi ini itu. Kalau saya tidak. Bisa makan itu sudah luar biasa, biar nggak mati. Kan gampang! Jadi itu yang tidak membuat saya kecewa.”

Lebih lanjut Gus Baha’ menuturkan:

“Hidup itu mencari sebanyak mungkin supaya hidup tidak bergantung pada banyak hal. Ada orang yang punya banyak hal dan kebutuhannya banyak, dibandingkan dengan orang yang tidak berkebutuhan banyak, itu baik yang mana?

Orang yang bahagianya nunggu jadi kiai, nunggu jadi dokter, nunggu dapat jabatan-jabatan yang lainnya, dibanding dengan orang yang bahagianya hanya dengan ngopi saja, itu lebih baik mana?

Sekarang saya balik pertanyaannya, orang yang hanya tahu nikmat ngopi saja, dibandingkan dengan nikmat sesuatu yang banyak, itu lebih baik mana?

Maka orang yang kebutuhannya banyak itu termasuk orang yang banyak kebodohannya, karena menggantungkan kebahagiaan dengan sesuatu yang banyak.
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa istighna’ (kaya-berkecukupan) adalah berusaha sebanyak mungkin tetapi kamu tidak begitu membutuhkan banyak hal, bukan malah memenuhi semua kebutuhanmu. Karena nafsu itu tidak batasnya, kalau kamu penuhi semua ya nggak akan selesai.”

Cukup Sekian. Semoga bermanfaat dan semoga kita semua senantiasa bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh-Nya. Amiin.

Penulis: Moh. Aqil Musthofah, M.H