Screen Addict: Dilema Dibalik Euforia Transformasi Digital

by Dec 28, 2021Opini

Kemajuan perkembangan teknologi menawarkan banyak privilege yang memberikan kemudahan bagi semua orang untuk dapat mengakses segala informasi, kapanpun dan di manapum. Setiap hari, inovasi baru terus bermunculan dalam hal invention dan upgrade fitur aplikasi gadget. Begitu banyak pilihan gadget yang dilengkapi dengan fitur dan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Seiring perkembangan zaman, teknologi telah menyentuh hampir di segala bidang dan aspek kehidupan.

Salah satu manfaat terbesarnya terutama yang bisa dirasakan di masa pandemi adalah kemudahandalam akses informasi di bidang pendidikan dan peningkatan SDM. Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, dalam Global Online Startup Weekend COVID-19 Indonesia, menyatakan bahwa ada perubahan dan pergeseran konfigurasi pemanfaatan atau penggunaan internet. Sebelumnya konfigurasi pemanfaatan internet berada di area kantor. kampus, sekolah dan tempat publik. Namun, saat ini konfigurasi penggunaan internet juga bergeser ke perumahan, tempat tinggal, dan pemukiman.

Pengguna jejaring internet tidak lagi hanya para orang dewasa yang membutuhkan akses untuk keperluan pekerjaan atau sekedar berselancar di media sosial, akan tetapi anak-anak juga turut menjadi pengguna aktif jejaring internet dan gadgetdi berbagai platform.Anak-anak mulai usia batita, bahkan sejak usia masih di bawah satu tahun, kini sudah mulai dikenalkan dengan gadget. Alasan orangtua memperkenalkan gadgetpada anak di usia dini sangat beragam. Mulai darialternatif media belajar,stimulatorkecerdasan dan pengetahuan, sebagai alat komunikasi, hingga sebagai alat bermain untuk menyenangkan anak.

Sebuah penelitian oleh Zaini, mahasiswa pascasarjana UNY, menyatakan bahwa pengguna aktif smartphone di Indonesia sekitar 177,9 juta jiwa. Penyumbang terbesar berasal dari kategori usia anak-anak dan remaja. Hasil penelitian menunjukkan tingkat penggunaan smartphone pada anak usia TK 4-6 tahun yaitu sebesar sembilan puluh empat persen. Penyebab tingginya tingkat penggunaan smartphone pada anak usia TK 4-6 tahun tersebutantara lain:

1) smartphone dan tablet sebagai sarana pengenalan teknologi informasi dan komunikasi

2) smartphone dan tablet sebagai media edukasi untuk menambah wawasan anak

3) smartphone dan tablet sebagai sarana hiburan agar anak tidak rewel

Ketiganya menjadi alasan yang mendominasi pilihan orangtua untuk membiarkan anak mengenal gadgetdi usia dini.Tidak sedikit pula orangtua yang merasa sangat terbantu dalam bekerja ketika sang anak diam dan fokus pada gadgetnya. Perlahan namun pasti, gadgetdianggap sebagai solusi tepat sebagai media komunikasi, edukasi, sekaligus entertainment.

Gadget dan teknologi informasi ibarat pedang bermata dua. Ada banyak nilai positif yang bisa didapat dengan memanfaatkan kecanggihan piranti elektronik di era digital. Namun di sisi lain, dampak negatif juga tidak bisa dihindari, terutama apabila digunakan secara kurang tepat dan bijak.

Pada anak-anak, penggunaan piranti elektronik tanpa supervisi yang tepat akan berdampak buruk bagi proses tumbuh kembangnya. Tidak hanya pada perkembangan dan pertumbuhan fisik, tetapi juga pada mental dan psikis anak. Dalam hal ini, orangtua memiliki peran utama dalam mengawasi dan mengatur waktu anak memakai gadget, yang lebih dikenal dengan istilah screen time.

Screen time adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan jumlah waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi dengan televisi, komputer, smartphone, tablet digital, hingga permainan video. Untuk anak dengan usia di bawah satu tahun, tidak disarankan sama sekali untuk terpapar layar elektronik. Untuk usia 2 – 5 tahun, waktu yang tepat adalah tidak lebih dari satu jam setiap harinya.

Screen Time yang berlebihan lambat laun akan menyebabkan kecanduan pada layar elektronik yang tidak terkontrol. Hal ini memicu terjadinya screen addict yang berdampak negatif pada hampir di segala aspek penting dalam fase tumbuh kembang anak. Dampak negatif screen addict di antaranya adalah:

  1. Tantrum

 Tantrum identik dengan ledakan emosi yang biasanya ditandai dengan sikap anak keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, atau marah. Sebenarnya tantrum merupakan hal yang normal terjadi dalam fase tumbuh kembang anak. Tantrum dikategorikan tidak wajar apabila intensitas dan frekuensinya semakin bertambah, berlangsung dalam waktu lama, dan dibarengi dengan kontak fisik.

Bagi anak yang sudah mengalami screen addict, kecerdasan emosional agak terganggu, dan kerap meluapkan emosi dengan berlebihan apabila merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini disebabkan kebiasaan screen time yang berlebihan, sehingga mereka terbiasa dengan kemudahan dan kepraktisan mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Ketikascreen time, anak terbiasa menerima informasi audio visual dengan cepat dan mudah. Hanya dengan menyentuh layar piranti atau memencet tombol, mereka sudah dapat menonton apa yang mereka mau. Di dunia nyata, tidak semua hal bisa langsung didapatkan seketika dengan mudah sesuai keinginan mereka. Hal inilah yang kemudian memicu bertambahnya frekuensi tantrum pada anak yang sudah terkena screen addict.

2. Hipoaktif

Anak yang sudah terbiasa screen time dengan durasi yang sangat lama, akan terbiasa pula untuk diam dalam waktu yang lama. Stimulasi aktif dan gerak anak akan berkurang. Hal ini akan berpengaruh terhadap kecerdasan motorik terutama motorik kasar. Padahal stimulasi aktif seperti bermain di luar dan bergerak aktif sangat penting bagi tumbuh kembang anak.

Menurut Anderson Jona K, bermain dibutuhkan karena dapat menstimulus pertumbuhan anak diantaranya adalah menstimulus koneksi sel-sel syaraf, fisik motorik kasar dan fisik motorik halus serta perkembangan sosial dan bahasa anak. Bermain juga mengajarkan anak-anak untuk belajar mengomunikasikan emosi, berpikir, kreatif dan mengatasi masalah.

3. Gangguan kesehatan

ScreenTime akan membuat anak lebih sering terpapar sinar biru pada layar sehingga menyebakan gangguan pada mata, seperti mata lelah, mata kering, hingga gangguan, penglihatan. Terlalu lama menatap layar piranti juga akan berpengaruh pada otot leher dan punggung, karena anak cenderung akan diam dalam waktu yang relatif lama selama menggunakan piranti elektronik.

4. Gangguan tumbuh kembang otak

Paparan radiasi dari gadget tentu akan berpengaruh pada perkembangan otak karena dapat melemahkan neuron-neuron aktif yang memiliki peranan penting dalam fase tumbuh kembang anak. Stimulasi berlebihan dari gawai mengakibatkan gangguan kognitif (daya ingat, daya tangkap dan konsentrasi), menurunnya kemampuan kemandirian anak, serta meningkatkan sifat impulsif pada anak.

5. Gangguan interaksi sosial

Ketika anak sudah mengalami screen addict, kecerdasan sosialnya jelas mengalami gangguan. Pengaruhnya akan terasa pada interaksi sosial yang meliputi pola komunikasi dan kontak sosial. Anak akan lebih menyukai bersikap pasif dan fokus pada gadget, daripada mengasah kecerdasan dalam berinteraksi dengan manusia lain di lingkungan sosialnya.Anak menjadi lebih sering menghabiskan waktu untuk screen time daripada bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman dan lingkungannya.

Di balik transformasi digital dan perkembangan teknologi, harus diakui memang menciptakan begitu banyak kemudahan dan kemajuan yang luar biasa. Namun semua pihak tetap harus mewaspadai dampak negatif dan tantangan yang semakin besar yang harus dihadapi. Salah satu yang urgen untuk segera diatasi adalah fenomena screen time yang berlebihan pada anak-anak sehingga memicu screen addict yang pada akhirnya memberi dampak sangat buruk bagi proses tumbuh kembang. Dalam jangka panjang, screen addict akan mengganggu kontrol emosi dan kecerdasan anak yang berperan penting dalam pembentukan kualitas dan karakter sebagai human being.

Usia anak-anak, terutama 0-5 tahun adalah tahapan emas perkembangan daya otak untuk menyerap informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Di fase ini, sel-sel neuron otak berkembang paling optimal dalam mengolah segala stimulus yang diberikan yang nantinya menjadi pondasi pembentukan karakter dan kecerdasan anak. Resiko terkena radiasi, penyalahgunaan konten sensitif, resiko menjadi pengguna yang aktif (ketergantungan) dan tidak bersosialisasi dengan orang lain, yang menjadi imbas dari screen time yang tidak tepat, menjadi begitu amat disayangkan apabila dibiarkan terjadi pada anak-anak.

Sebanyak dan secanggih apapun akses informasi dan wawasan yang ditawarkan oleh piranti elektronik, akan tetap jauh lebih berharga pendampingan dan kasih sayang orangtua yang aktif memberikan stimulus secara langsung dalam kelangsungan proses tumbuh kembang anak. Jadi orangtua tidak hanya mengunduh aplikasi media belajar dan membiarkan anak terbiasa screen time, tetapi juga melakukan pengawasan dan pendampingan aktif pada anak, sehingga anak tidak tenggelam dalam euforia digitalisasi.

Menjadi orangtua yang cerdas, melek teknologi, dan bijak dalam pemanfaatan piranti digital, merupakan modal penting dalam membersamai anak agar tumbuh menjadi manusia yang berkualitas dengan segala aspek kecerdasan yang matang dan imbang di era transformasi digital.

Penulis; Dini Amalia, M.A

Editor; Intihaul Khiyaroh, M.A