Reaksi Alam “Ngeri”: Hikmah Musibah dan Menyikapinya Dalam Perpektif Islam

by Dec 15, 2021Opini

Siapa pun tidak ada yang tahu kapan akhir kehidupan di dunia, WaAllahu ‘alam, hanya Allah yang tahu, namun akhir kehidupan dunia yang pada umumnya disebut dengan istilah kiamat terdapat tanda-tanda, diantara tandanya, alam mengalami kehancuran di mana-mana baik daratan, lautan maupun langit, bahkan semua daratan menjadi lautan, jika hal itu terjadi maka tidak ada lagi tempat kehidupan bagi manusia, melainkan kematian semua makluk hidup.

Fenomena alam terkadang menunjukkan reaksi yang mengerikan, seperti tsunami, banjir, tanah longsor, wabah covid-19 entah itu fakta atau fiktif tetapi kenyataanya jutaan manusia meninggal karena Covid-19 dan pada Sabtu, 4 Desember 2021 yang lalu terjadi erupsi Gunung Semeru yang mengerikan. Akibat yang ditimbulkanya tidak sedikit korban mengalami kerugian insfratruktur yang cukup parah dan puluhan nyawa menghilang serta mengalami trauma bagi yang terselamatkan, singgah menimbulkan spekulasi yang macam-macam dari para pakar lintas disiplin ilmu dengan argumentasinya masing-masing, ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi dianggap sebagai adzab, peringatan, musibah, dan pertanda alam sudah tua yang menandakan kiamat sudah dekat dan lainnya, tetapi semua itu hanyalah pendapat, siapapun boleh percaya boleh tidak, namun suatu hal yang tidak dapat dihindari adalah akibat dari reaksi alam itu yang dapat menimbulkan kerusakan besar terhadap mental spiritual dan material serta, tatanan kehidupan manusia. Lalu bagaimana menyikapinya agar kehidupan manusia kembali normal dan tidak mengalami trauma berkepanjangan terhadap musibah yang dihadapinya?

Terkait dengan kejadian alam yang mengerikan di dunia ini,  semua atas kehendak dan kekuasaan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surat At-Taubat ayat 51:

قٌلْ لَنْ يُصِيْبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللهِ فَالْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Muhammad): tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal

Pada ayat diatas Allah menegaskan bahwa, setiap peristiwa yang terjadi semuanya telah digariskan  Allah dan hanya kepada Allah, kita berlindung, tetapi benarkah setiap peristiwa alam yang dapat meluluhlantahkan kehidupan manusia itu murni ketetapan dan kehendak Allah semata tanpa ada kaitanya dengan ulah manusia dimuka bumi ini? Kalau memang di daratan, lautan dan angkasa mengalami kerusakan nyata atas ulah tangan manusia dan keserakahan manusia yang rakus terhadap eksploitasi alam secara besar-besaran, maka sudah dapat dipastikan bahwa setiap kejadian alam yang mengerikan itu ada kaitanya dengan ulah manusia yang dapat mempengaruhi ketetapan dan kehendak Tuhan. Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ اْلفَسَادَ فِي اْلبَرِّ وَالْبَحْرِ بِماَكَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”

Dibalik setiap takdir dan musibah dari suatu peristiwa pasti terdapat makna yang tersembunyi atau hikmah yang dapat dijadikan suatu pelajaran bagi manusia yang selamat dari keganasan dan menjadi anugerah bagi mereka yang mengambil hikmah disetiap musibah. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat: 269

يُؤْتِيَ اَلْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ, وَمَنْ يُؤْتَ اَلْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّااُوْلُوْا الْاَلْبَابِ

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat”

Allah menegaskan lagi dalam surat Al-Hadid ayat: 22-23

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ () لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ () الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalamkitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak ada  bencana yang menimpa bumi dan umat manusia kecuali yang sudah menjadi ketetapan di lauhil Mahfudh, ayat ini juga mengingatkan kepada umat manusia agar jangan bersedih dan berduka cita atas musibah yang menimpanya, serta jangan gembira, sombong dan membanggakan diri terhadap anugerah-Nya. Itulah pandangan Al-Qur’an dalam menyikapi bencana atau musibah yang melanda umat manusia di muka bumi ini.

Orang-orang yang memiliki akal sehat, akan menjadikan suatu pelajaran dibalik musibah yang menimpanya. Lalu hikmah apa yang dapat diambil pelajaran dibalik musibah itu, pertama: bersyukur saat diberi kenikmatan. Syukur adalah sikap menerima suatu kenyataan agar nikmat yang Allah berikan diperdayakan supaya mendatangkan keridhaan Allah, kedua: Sabar dikala tertimpa musibah, bersabar membuktikan keikhlasanya dengan tidak meluapkan amarah dan emosi dikala tertimpa musibah, ketiga: Menyadari bahwa manusia itu lemah, hamba yang tidak memiliki daya dan upaya untuk menolak kehendak Tuhan, keempat: menyadari bahwa didunia itu tempat menguji dan kepayahan umat manusia, kelima: semakin menguatkan kesadaran umat manusia bahwa di dunia ini tidak ada kenyamanan dan ketentraman yang bersifat kekal, keenam: bencana menjadi teguran bagi orang-orang  yang beriman dan yang selamat dari kejadian alam yang mengerikan, ketujuh: menyadarkan bagi yang mampu secara financial dan sehat fisik agar saling membantu terhadap sesama terutama kepada yang lemah dan yang membutuhkan, ke delapan, mempererat ukhuwwah wathaniah dan insaniah, ke sembilan: menjadi tadzkirah bagi siapapun, bahwa bencana dan musibah itu terjadi kepada siapapun, kapanun dan dimanapun.

Bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa, bencana dan musibah akan menjadi ujian untuk mengangkat derajat yang lebih tinggi dan lebih dekat kepada Allah. Jika manusia menyadari bahwa setiap musibah dan peristiwa yang mengerikan selalu ada hikmah dibaliknya, maka akan memperkokoh keimanan dan ketakwaan seseorang kepada Allah SWT.

Penulis; Nur Hakim, M.Ag

Editor; Intihaul Khiyaroh, M.A