RUWETISME HIDUP

by Dec 11, 2021Opini

Hidup adalah persoalan sosial yang komplek yang di dalamnya terdapat banyak dinamika dan persoalan yang seringkali mengganggu ketenangan dan keasyikan hidup seseorang. Dinamika terkadang datang dari keluarga maupun sosial masyarakat, bahkan mitra kerja. Titik persoalan hidup menjadi ruwet adalah seringkali manusia tidak mengetahui batasan yang ada dalam dirinya, batasan sifatnya beragam, bisa batasan dalam jabatan, status sosial, dan lain sebagainya. Sifat ingin memiliki segalanya adalah sumber penderitaan menurut perspektif agama Buddha, bagaimana tidak menderita kalau segala sesuatu semua ingin dimiliki, tanpa pernah melihat batasan yang ada dalam dirinya.

Manusia memang selalu berdinamika, hal demikian menjadi wajar karena kelebihan yang dianugerahkan kepada manusia yakni kemampuan berfikir, menjadi berbeda apabila dibandingkan dengan mahkluk lain seperti hewan, sapi, kambing dan domba yang bertugas berkembang biak untuk bisa dijual, membantu juragan memenuhi kehidupan sosial ekonominya.

Mudahnya manusia mendapat pengetahuan di alam semesta ini juga menjadi salah satu faktor ruwetisme hidup, satu pengetahuan yang didapatkan akan merubah pola pikir dan gaya hidup, serta penilaian ia kepada orang lain tidak memiliki pengetahuan, maka tidak ada gunanya kalai ilmu pengetahuan tidak imbang dengan nilai keagamaan selain melahirkan kesombongan belaka.

Konsep manusia adalah khalifah (pemimpin) perluh kajian mendalam serta cerdas agar tidak menjadi boom atom yang sewaktu waktu dapat meledak yang meruwetkan tataran hidup seseorang, bagaimana tidak ruwet kalau masing masing individu memiliki nafsu berkuasa dan memiliki jabatan namun diragukan kemampuan dan gaya memimpinnya nanti.

Ada baiknya dan memang seharusnya berfikiran multidisiplin tidak hanya monodisiplin. Pemikiran multidisplin memberikan paradigma baru bahwa manusia perluh memiliki pandangan yang luwes dan luas, tidak cukup menguasai satu bidang keilmuan, namun lebih daripada itu, agar tidak terjebak pada titik kebodohan stadium empat.

Sepertinya disinilah peran hati itu perperan, dengan semakin banyak pengetahuan akankah membuat kita semakin menundukan diri baik sesama manusia maupun kepada Tuhan. Atau justru sebaliknya membuat kita gumedhe merasa tinggi hati dan memandang sebelah mata orang lain bahkan membodohkan orang lain yang tidak memiliki pengetahuan seperti dirinya. Ada saatnya kita percaya diri karena pengetahuan yang kita miliki, namun ada saat juga bagi kita untuk menunduk sungkan dengan orang lain karena kekurangan yang kita miliki.

Dengan logika dan persepsi yang kita bangun kemudian kita yakin sedemikian adanya. Outputnya akan terlihat dalam kehidupan kita sehari hari, bagaimana kita bersikap, berpendapat, dan hidup bersosial masyarakat. Mendapatkan masalah dan cara menyelesaikan masalah. Toh..! pada kenyataanya hidup tidak hanya mengandalkan kepandaian berfikir seringkali ketabahan dan keikhlasan serta kegiatan yang dilakukan secara istiqomah akan menjadi jembatan menuju kesuksesan sepanjang masa.

Dalam dinamika kehidupan, kita tidak jauh dari yang namanya harapan, satu harapan tercapai akan muncul harapan harapan lain yang derajatnya lebih tinggi. Ruwetisme hidup, angel tuturane pancen

Namun, tidak semua orang begitu, ada juga yang ketika sudah tercapai harapan yang diinginkan, sudah merasa cukup tidak memiliki pikiran harapan yang lebih tinggi. Semua orang memiliki kebebasan untuk menentukan cita cita dan harapannya, akan tetapi kalau semuanya tidak terwujud jangan bersedih, jangan menyerah, bisa jadi Tuhan memiliki takdir lain yang lebih pas dan asyik.

Ya sudahlah, ambil aman saja, hidup tampaknya memang bebas, tapi kita jangan mengusik kebebasan orang lain, kita memang bebas, mau kemana, mau beli apa, mau melakukan apapun, namun pada ujung ujungnya akan muncul perasaan bahwa kita memang tidak mampu melakukan semua hal yang dianggap kebebasan itu, apalah makna hidup ini kalau kita tidak mengerti batasan yang ada dalam diri sendiri. Stop ingin tau dan menganggu urusan orang lain yang bukan urusan kita agar hidup tetap ideal, tidak ruwet

Cukup disini tulisan ini, sepertinya stok kopi susu saya masih banyak untuk satu minggu kedepan, kaset lawas lagu Ida Laila dan ST 12 antri untuk diputar. Hidup terlalu ruwet untuk meruwetkan diri sendiri.  

Penulis; Moh. Khoirul Fatih, M.Ag

Editor; Intihaul Khiyaroh, M.A