Literasi: Salah Satu Upaya Menerangi Pemuda, Melawan Narkoba

by Dec 4, 2021Opini

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya telah menjadi bom waktu di negeri ini. Betapa tidak, peredaran barang haram ini sudah sampai di tempat-tempat yang justru dianggap aman dari hal-hal negatif semacam itu, seperti sekolah, kampus, bahkan rumah-rumah ibadah. Pada tahun 2015, tercatat 102 kasus penyalahgunaan narkoba yang diungkap oleh BNN. Peredarannya dilakukan dengan berbagai macam cara, ada yang dijadikan permen, dicampurkan ke dalam adonan cookies, dan ada juga yang disembunyikan dalam bungkusan ikan asin.

Meskipun angka pecandu narkoba di Indonesia turun 0,6 % pada tahun 2015, namun ancaman narkoba tetap saja sangat mengkhawatirkan. Indonesia menjadi seperti surga bagi peredaran narkoba  internasional. Tiap tahunnya, 15.000 jiwa meregang nyawa karena barang ini. Pada tahun 2016 ini, pengguna narkoba di Indonesia mencapai angka 5,1 juta orang. Wapres mengungkap, laporan UNODC per 24 Juni 2021 menyebutkan sekitar 275 juta orang di seluruh dunia menggunakan narkoba pada 2020. Lebih parahnya, sebagian besarnya masih berusia pelajar dan mahasiswa.

Berbagai solusi pencegahannya mungkin sudah dicetuskan, namun upaya itu belum juga mencapai hasil yang maksimal. Hukum Indonesia telah jelas mengatur hukuman bagi pengedar narkoba lewat UU No. 35 tahun 2009 dengan penegakan hukumnya yang sudah cukup tegas. Badan Narkotika Nasional juga telah mengadakan berbagai sosialisasi dengan banyak cara. Selain itu, para pemuka agama dan tokoh nasional di Indonesia sudah sering kali menyampaikan betapa berbahayanya narkoba bagi generasi muda. Kira-kira solusi apa lagi yang bisa kita lakukan?

Dunia Literasi. Mungkin itu belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi, apa yang bisa dihasilkan lewat membaca dan menulis? Apakah dunia literasi bisa menjadi sarana pencegahan penyalahgunaan narkoba? Tentu jawabannya bisa. Membaca dan menulis adalah kegiatan positif yang bisa dijadikan solusi dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Banyak pelajar yang memiliki hobi membaca dan mengidolakan penulis-penulis terkenal. Sebut saja: Tere Liye, Andrea Hirata, Dewi Dee Lestari, Asma Nadia, dan penulis terkenal lainnya.

Disinilah letak hubungan antara dunia tulis-menulis dan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba khususnya dikalangan pelajar dan mahasiswa. Dengan minat baca yang dimiliki pelajar, penulis bisa menyampaikan pesan-pesan anti narkoba tanpa membuat pembaca bosan. Berikut diantara solusi yang mungkin bisa dilakukan untuk mendorong generasi pelajar terhindar dari jerat penyalahgunaan narkoba :

  1. Mendorong pelajar untuk hobi membaca. Membaca dapat menjadi salah satu kegiatan positif untuk menghindari hal-hal negatif yang dapat merusak pribadi sebagai pelajar dan mahasiswa. Mulai dari pornografi, kebut-kebutan di jalan, dan juga lainnya. Membaca juga dapat menambah wawasan para pelajar dan mahasiswa, sehingga seorang pelajar dan mahasiswa tidak hanya belajar di sekolah dan kampus, namun dimana saja. Membaca bisa menjadi ajang sosialisasi untuk pelajar dan mahasiswa agar mengetahui bahaya narkoba. Semakin banyak yang mereka baca, semakin luaslah pandangan para pelajar dan mahasiswa sehingga ia lebih berorientasi ke masa depan dan menghindari hal-hal yang bisa merusak masa depan mereka. Selain itu, lewat membaca remaja yang putus sekolah dan kuliah juga bisa tetap mendapat ilmu dan tidak terjerumus dalam jurang pergaulan bebas yang menjadi gerbang utama bagi peredaran narkoba.

Karena usia yang masih remaja, kebanyakan pelajar dan mahasiswa sering memiliki masalah, baik di sekolah dan kampuz, di lingkungan keluarga, maupun masalah-masalah lainnya. Betapa banyak pelajar dan mahasiswa yang menjadikan narkoba dan pergaulan bebas sebagai pelariannya dari masalah.Hal ini jugalah yang harus menjadi perhatian bersama.Membaca dan menulis juga bisa menjadi pelarian mereka dari masalah, sehingga mereka bisa menjadikan hal-hal positif sebagai pelarian. Namun bagi pelajar yang tidak menyukai dunia literasi, kegiatan positif lain yang sesuai dengan hobinya juga tetap bisa menjadi pelarian, yang terpenting adalah bagaimana agar kita bisa menjauhi hal-hal negatif yang akan menghancurkan masa depan kita.

  • Mengajak penulis nasional untuk menyisipkan kampanye anti narkoba pada tulisannya.
    Kebanyakan pelajar dan mahasiswa pada umumnya lebih menyukai bacaan fiksi berbentuk narasi daripada bacaan ilmiah berbentuk persuasi maupun argumentasi. Kita lebih menyukai alur cerita yang bagus, tokoh yang keren, atau tema imajinatif yang ringan, seperti percintaan, persahabatan, atau petualangan yang sesuai dengan dunia remaja. Hal ini menjadi tantangan bagi para penulis agar bisa menghasilkan karya yang berbobot dan menjadi kampanye anti narkoba tanpa harus menggurui. Misalnya saja membuat novel remaja dengan kisah sang tokoh utama yang hidupnya hancur karena mengonsumsi narkoba. Mungkin dengan novel itu, pelajar dan mahasiswa yang membacanya bisa mengambil nilai-nilai moral di dalamnya. Kebanyakan mereka memang malas membaca buku-buku yang lebih banyak teori dan terkesan menggurui. Mereka lebih memilih membaca kisah fiksi sebagai bentuk refreshing bagi otak disela-sela kegiatannya. Disinilah tugas mulia bagi penulis yang bisa menyelamatkan pemuda Indonesia dari jerat haram narkoba.
  • Mengundang penulis-penulis terkenal dalam sosialisasi pencegahan penanggulangan narkoba. Selain hobi membaca bukunya, para pelajar dan mahasiswa juga akan mengidolakan sang penulis. Ketika kita menilai sebuah buku itu bagus dan menarik, kita tentu akan tertarik pada penulisnya dan kemudian akan tertarik membaca karya lain dari penulis itu. Setelah banyak pelajar yang mengidolakan penulis-penulis itu, maka mudah saja kita mengajak mereka untuk mengikuti sosialisasi tentang bahaya narkoba dengan mengundang beberapa penulis nasional yang menjadi idola para pelajar. Dari situ, penulis bisa menyampaikan tips-tips mengisi masa muda dengan bermanfaat tanpa harus mengorbankan waktu belajar, dan para pelajar terhindar dari penyalahgunaan narkoba.
  • Membentuk Komunitas “Penebar Manfaat”

Apa yang kira-kira dilakukan komunitas ini? Tentu saja komunitas ini bertugas menebarkan manfaat dengan cara menulis. Dari pelajar dan mahasiswa yang memiliki hobi membaca, pasti akan ada yang hobi menulis. Dengan komunitas “penebar manfaat” ini, kita bisa menyalurkan hobi menulis tersebut dan memberikan inspirasi bagi pemuda lain agar menghindari narkoba.

Bagaimana dengan yang tidak suka menulis?

Kelompok penebar manfaat juga bisa menjadi wadah untuk pelajar yang suka hobi lainnya, misalnya melukis, desain grafis, futsal, ataupun basket. Mereka bisa menyampaikan pesan-pesan anti narkoba dengan hobinya masing-masing. Komunitas penebar manfaat bisa menjadi komunitas anti narkoba yang giat menyosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkoba. Dengan komunitas ini, pelajar dapat mengisi waktu luangnya untuk berbagi manfaat pada teman-teman kita. Kita juga bisa saling mengingatkan untuk tetap berada pada pergaulan yang sehat sehingga tidak bersentuhan dengan dunia gelap narkoba.

  •  Mengadakan event-event lomba

Solusi berikutnya adalah mengadakan event perlombaan.Dengan event perlombaan, mereka jadi memiliki wadah untuk berkompetisi secara sehat. Event tersebut bisa diadakan oleh pemerintah maupun komunitas-komunitas anti narkoba. Lomba yang diadakan pun bisa berupa lomba menulis, melukis, film pendek ataupun kompetisi olahraga seperti futsal dan basket, yang terpenting adalah bagaimana perlombaan tersebut menjadi wadah yang positif bagi pelajar agar terhindar dari pelarian yang membawa penyesalan serta dapat menyampaikan pesananti narkoba kepada masyarakat luas.

Mungkin itulah solusi-solusi yang bisa kita lakukan bersama dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Dunia literasi bisa mengambil andil yang besar dalam upaya ini. Dengan menulis, pelajar dan mahasiswa bisa menebarkan manfaat, baik bagi teman- temannya maupun untuk masayarakat umum. Sedangkan membaca akan menjadikan mereka lebih memiliki wawasan yang global.

Namun di samping semua itu, tetap ada sebuah PR besar bagi pemerintah dalam upaya pencegahan ini.Pemerintah harus bahu-membahu dengan seluruh lapisan masyarakat menghalau segala bentuk tindakan yang dapat menjadi celah masuknya peredaran narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa.Selain pemerintah, peran keluarga dan sekolah serta kampuz juga memiliki andil besar bagi kehidupan pelajar. Lingkungan rumah dan sekolahharus kompak dalam melindungi generasi penerus bangsa dan mendorong mereka untuk menjadi pemuda yang bermanfaat. Jangan sampai ada lubang sekecil apapun sehingga narkoba bisa masuk dalam kehidupan mereka.

Pemerintah harus berpartisipasi aktif dalam menyukseskan upaya-upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba misalnya dengan menyebarkan buku-buku bacaan yang bermanfaat dan sesuai dengan usia pelajar dan mahasiswa atau mengadakan perlombaan-perlombaan yang bisa meningkatkan kreatifitas pelajar dan mahasiswa. Pemerintah juga harus melindungi mereka yang sudah terlanjur menjadi korban dalam penyalahgunaan narkobadengan merehabilitasi mereka bukan dengan memasukkan mereka ke dalam penjara.

Selanjutnya, Teruslah jadi pemuda yang menebarkan manfaat dengan menyalakan “lilin-lilin literasi” yang mampu menghalau narkoba.Sebagaimana kita ketahui bahwa sebaik- baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.Mari teriakkan dengan lantang “Kami Pemuda Indonesia, Kami Bukan Budak Narkoba!”

Penulis; Dr. Fitrotin, M.Th.I

Editor; Intihaul Khiyaroh, M.A