Dakwah adalah kewajiban setiap muslim (H.A. Mukti Ali, 1987) yang harus dilakukan secara berkesinambungan, yang bertujuan akhir mengubah perilaku manusia berdasarkan pengetahuan dan sikap yang benar yakni untuk membawa manusia mengabdi kepada Allah swt. secara total (Deddy Mulyana, 1999). Sebagai suatu aktivitas, dakwah berupaya mengubah suatu situasi tertentu kepada situasi yang lebih baik menurut ajaran Islam. Dengan kata lain dakwah, berarti menyampaikan konsepsi Islam kepada manusia mengenai pandangan dan tujuan hidup di dunia ini (Endang Saifuddin Anshari, 1969).

Tampaknya, dakwah yang dimaksudkan tersebut merupakan aktualisasi iman (teologis) yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman secara sistematis, untuk memberikan sugesti cara berpikir dan bertindak dalam kerangka individu dan sosial sesuai ajaran Islam (Bisry Hasanuddin, Ed., 1991: 233). Jadi, dakwah hendaknya ditujukan untuk memberikan dasar filosofis bagi eksistensi masyarakat baru, memberikan arah perubahan menuju tatanan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah swt. dan meletakkan Islam sebagai etos kerja yang dengan sendirinya menempatkan agama sebagai penggerak perubahan sosial (Amrullah Ahmad, 1985).

Dakwah melalui komik sejarah mencatat bahwa sejak pertengahan dekade 1950-an sampai awal dekade 1980-an, komik Indonesia pernah berjaya dan senantiasa menjadi konsumsi lazim generasi muda. Saat itu berbagai genre komik digemari dan memiliki pasar yang menjanjikan. Katakanlah tema cerita rakyat, wayang, roman, silat, komedi, horor/ misteri, superhero/ fantasi, kepahlawanan, termasuk agama. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, juga memiliki banyak sekali komik-komik bertema Islam. Walaupun secara umum media komik merupakan sarana hiburan, namun tak jarang kita menemukannya juga sebagai sarana pendidikan. Khusus pada masa keemasan itu, komik-komik bertema Islam pada umumnya berkisar diantara tema kepahlawanan/ pejuang nasional, syiar agama, dan petualangan, yang kerap menyampaikan pesan moral. Bagi sebagian pihak, memvisualisasikan wujud manusia dan makhluk hidup lainnya dalam bentuk gambar tidak diperkenankan oleh agama. Visualisasi makhluk hidup dikhawatirkan akan mengkultuskan seorang tokoh dan mengurangi kadar keimanan kepada Allah SWT. Dalam banyak hal kekhawatiran ini memiliki latar belakang alasan yang kuat, terutama banyaknya catatan sejarah perihal visualisasi tersebut.

Seiring dengan melesunya industri komik nasional dipertengahan dekade 1980-an, komik pendidikan Islam juga mulai hilang dari peredaran. Khusus dalam komik bertema ke-Islam-an, kedatangan komik-komik asing membawa kerugian. Tidak banyak (atau bahkan nyaris tidak ada) komik impor atau komik terjemahan yang bertemakan ke-Islam-an. Putra-putri kita tak lagi dapat menikmati komik-komik ke-Islam-an, sebagai pengetahuan tambahan atau alternatif.

Retorika Komik Islami

Barangkali karena dilema keagamaannya, maka pada awal kehadiran komik ini ada deskripsi tentang apa yang disebut sebagai “komik islami”, semacam kredo mengapa media komik dipilih.

 Pertama, bertajuk “Bahasa Visual, Bahasa Universal” ada ‘pemahaman” bahwa bahasa visual (dalam hal ini gambar) adalah suatu yang universal, yang telah ada sejak zaman prasejarah. Bahasa visual diyakini sebagai alat komunikasi yang efektif dan manusiawi, terlebih kepada remaja dan anak. Beriring itu ada “penyesalan” bahwa dalam fungsinya sebagai bahasa, gambar/visual selama ini terabaikan. Padahal, katanya, gambar/visual itu bisa memunculkan kreativitas dan imajinasi.

Kedua, bertajuk “Kembali ke Dasar” diungkapkan keprihatinan terhadap situasi Indonesia akhir-akhir ini yang penuh “kerusuhan, kehancuran moral dan anarki,” karena itu hadirlah “komik islami,” dengan gambar berwarna yang sangat realis, yang berisi ajaran tentang akhlak dan budi pekerti, yang sumber-sumbernya diambil dari cerita nyata yang terjadi pada masa nabi dan sebelumnya serta dari ayat-ayat Quran dan hadist.

Kalau boleh diafsirkan, bagian “kembali ke dasar” ini adalah sebuah klarifikasi dan pernyataan tentang “niat” yang melatari pembuatan komik tersebut. Dalam teologi Islam, “niat” memiliki kedudukan yang penting dan strategis. Seluruh amal perbuatan akan ditentukan dari niatnya. Niat yang buruk kadang bisa menganulir tindak yang baik. Sebaliknya, hasil dan dampak yang buruk bisa ditolerir oleh niat yang baik. Niat dan tindakan tidak mempunyai hubungan yang linear dan korelatif. Demikianlah, “niat” yang dinyatakan dalam pembuka komik ini telah melampaui dan mengatasi “produk  gambar” yang secara teologis (masih) dianggap problematis di sebagian mazhab teologi Islam. “Niat” itu sekaligus menyeleksi, menstandarisasi, dan menetapkan suatu jenis komik yang terpilih, yang penting dan pantas untuk dibaca: “komik islami.”

Dengan itu, seluruh hambatan yang bersifat teologis maupun psikologis dalam menghadirkan komik islami tersebut sepertinya telah diatasi. Komik, tentu dengan muatan Islami, karena itu perlu, penting, dan harus dibuat. Komik islami hadir dengan kredo-kredo dengan retorika yang verbal, unik dan spesifik. Kredo itu meliputi: Pertama: Identitas Transformatif, Ada anggapan lama bahwa komik tidak mendidik, melupakan waktu belajar dan merusak bahasa. Tapi jika kita seksama, komik diyakini sebagai suatu yang memiliki “kelebihan dari bahasa tulis maupun lisan. bukan sekadar membawa pesan edukasi dan bersifat hiburan tetapi juga sebagai “bahasa visual yang cerdas dan dinamis, (yang) akan mengiringi pembaca menuju sebuah pencerahan”.

Mengapa ada keyakinan yang begitu besar bahwa komik memiliki daya transformasi yang signifikan seperti mampu mengasah EQ, memberi kecerdasan, menciptakan pencerahan. Komik yang diciptakan dan dikonstruksi dengan semangat etik keagamaanlah yang bisa menghadirkan daya transformasi seperti itu. Singkatnya, hanya “komik yang telah diislamkan”lah, yakni “komik Islami”, yang bisa membawa transformasi.

Kedua: Identitas Ke-Indonesia-an, Retorika nasionalistis ini, tentu mengingatkan kita akan komik-komik tahun 1960-an hingga 1970-an, yang kehadirannya sering dimaksudkan untuk menandingi pengaruh komik-komik produk Amerika. Sekarang pun kita tahu bahwa dalam wacana komik, ada kerisauan yang besar dengan dominasi komik-komik Jepang dan tergusurnya komik lokal. Dalam wacana itu, lalu para komikus dan pengamat pun mencoba menggerakkan apa yang disebut sebagai “komik lokal” atau kadang juga secara tumpang-tindih disebut “komik Indonesia”? Apa yang salah dan kurang dari komik lokal atau komik Indonesia sekarang ini sehingga ia begitu tak berdaya di hadapan komik-komik impor, terutama Jepang?

Tetapi sebelum menjawab tuntas pertanyaan itu, mereka sudah dicegat oleh pertanyaan: bagaimana karakteristik komik lokal atau komik Indonesia itu? Adakah suatu yang memang khas bisa disebut sebagai komik lokal/komik Indonesia itu?

Lalu, secara simplistis dirumuskanlah apa yang disebut sebagai komik lokal/komik Indonesia itu: Pertama, penggambar dan penceritanya adalah orang Indonesia. Kedua, dipublikasikan oleh penerbit lokal. Dan ketiga, ceritanya diambil dari khazanah lokal/Indonesia. Contoh paling sering disebut secara nostalgis adalah komikos legendaris R. A. Kosasih dengan serial komik Mahabarata dan Ramayananya.

Dengan semangat “merintis bangkitnya kembali dunia komik Indonesia yang penuh dinamika dan kreasi…” di tengah serbuan komik import yang semakin tidak terbendung” “komik Islami” tentulah sudah sejak awal meyakini diri sebagai (bagian) dari komik Indonesia? Masalahnya lalu, bagaimana karakter “Indonesia” dihadirkan di situ?

Dengan ketiga rumusan di atas, “Komik Islami” bisa dikategorikan sebagai “komik lokal”/”komik Indonesia”. Penggambar dan penceritanya adalah warga Indonesia. Penerbitnya juga penerbitnya Indonesia. Adapun (beberapa) ceritanya, yang mengambil setting Islam Arab (bukan lokal), tentulah setara dengan Ramayana dan Mahabaratanya R. A. Kosasih yang juga berasal dari India. Dalam hal ini, baik cerita-cerita yang berlatar India maupun Arab diyakini sebagai lokal Indonesia sejauh ia dipahami telah “mengindonesia”.

Tapi rumusan ini baru menyentuh hal-hal permukaan (dan sedikit gagasan), dan belum aspek yang paling substansial dari apa yang disebut komik: yaitu bentuk. Rumusan di atas masih terjebak pada definisi komik sebagai “cerita bergambar”, dan bukan “gambar yang bercerita.”

Ketiga: Identitas Bentuk dan Coretan, Sejak awal komik Islami tampaknya dihadirkan sebagai suatu industri, dalam arti dicetak dan diedarkan secara industrial. Dengan demikian format, cover, dan kualitas cetaknya pun digarap sangat “maksimal”. Umumnya komik-komik ini dibuat dengan melibatkan studio-studio komik. Di antaranya Studio Komik Bajing Loncat, SP Komik Studio, Next Studio dan lainnya. Keterlibatan studio ini mungkin merupakan hal baru dalam sejarah produksi komik di Indonesia. Sebelumnya, komik dibuat individu-individu seniman. Karena itulah individu-individu itu terkenal dan identik dengan tokoh-tokoh komik yang dibuatnya. Dalam hal komik Islam, kedudukan dan peran individu-individu itu digantikan oleh studio-studio.  Meski dibuat oleh banyak studio, dan sudah tentu banyak melibatkan orang, namun secara umum dalam hal goresan, komik Islami ini mirip dengan gaya Jepang. Dalam format kecil itu, panel-panelnya tampak penuh hingga kadang bisa berjumlah delapan. Namun anasir dan latar belakangnya yang terang, sebagaimana juga gaya komik Jepang, membuatnya tidak tampak sesak.

Memang tokoh komik-komik Islami tidak bersifat ikonis, yang ceritanya dibuat panjang dan berjilid-jilid. Cerita-ceritanya diambil dari tokoh-tokoh di dalam hikmah keagamaan. Biasanya, ceritanya diambil satu episode saja dari perjalanan atau kehidupan panjang sang tokoh, yang selesai dalam satu buku saja. Mungkin ini merepresentasikan juga satu pokok ajaran yang hendak disampaikan.

Demikianlah, selain karakter nasionalistis itu komik ini juga bersifat Islami. Teringatlah kita akan kombinasi “nasionalis-Islam” atau “Islam-nasionalis” dalam khazanah politik tanah air. Tetapi kita tidak tahu, dan perlu memeriksa lebih lanjut, bagaimana “nasionalis(me)” itu dikerangkakan oleh yang “islami” atau sebaliknya, bagaimana yang “islami” itu dikerangkakan oleh yang “nasionalis(me)” itu? Singkatnya, bagaimana “Islam(i)” itu berkombinasi dengan “nasionalis(me)” itu? Dalam komik-komik Islam ini, konstruksi dan kombinasi dua unsur itu.
Sebagian kalangan melihat visualisasi komik dari sisi positif dan mengaplikasikannya untuk tujuan pendidikan. Visualisasi materi pendidikan adalah salah satu metode yang efektif dalam menyampaikan pesan kepada pembaca (dalam hal ini anak dan remaja). Komik sebagai media budaya pop merupakan salah satu format yang tepat sebagai suplemen pendidikan. Analogi yang sama juga digunakan oleh para Wali dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia dengan menggunakan media wayang kulit atau wayang golek. Berangkat dari sinilah banyak kita jumpai komik Indonesia bertemakan pendidikan Islam.

Penulis; Sjahidul Haq Chotib (Perupa, E-mail: sjahidulhaq@gmail.com)

Editor; Intihaul Khiyaroh