Belajar Calistung yang Tepat Untuk Anak Usia Dini

by | Aug 9, 2023 | Opini | 0 comments

Oleh: Wardatul Karomah, S.Pd.I, MA. (Kaprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan)

(Gambar Ilustrasi: robarmstrong2/Pixabay)

Berangkat dari kegundahan para orang tua yang memiliki anak didik di Pendidikan Anak Usia Dini, dimana ada sisi indikator keberhasilan belajar anak-anaknya adalah ketika anak bisa membca, menulis dan berhitung. Padahal secara pendidikan hal ini tidaklah tepat. Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi mengingatkan para pengajar Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk mengajarkan baca, tulis, hitung (calistung). Dihimpun dari berbagai sumber, dia berpendapat anak-anak TK dan PAUD cukup belajar bermain, bersosialisasi sehingga siap masuk SD.

Mengamini apa yang dikatakan Didik, psikolog pendidikan Weny Savitri Sembiring menuturkan masa PAUD dan TK merupakan masa pengenalan. Jadi, kata dia, bukan calistung tetapi pramembaca, pramenulis dan pramenghitung. Kita latih mereka aktivitas yang bikin mereka siap baca, tulis, dan hitung. Dengan aktivitas itu mereka bisa sendiri, tanpa perlu dipaksa untuk menghafal. Hal yang bisa dilakukan orang tua pada dasarnya adalah dengan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya bukan yang terbaik untuk dirinya.

Arti calistung merupakan kegiatan belajar yang berkaitan dengan penguasaan baca, tulis, dan hitung. Calistung merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai anak yang telah menginjak SD, bukan bagi anak usia dini. Gaya belajar calistung ini dapat diterapkan usia 6-7 tahun, sedangkan orang tua bisa mulai melakukan pendekatan teorinya atau pra-calistung saat anak berusia 5 tahun. Usia anak untuk tahap pendekatan atau pengenalan ini dinilai cukup efektif. Sebab anak telah masuk ke tahap perkembangan konkret yang ditunjukkan dari kemampuan berbicara yang lebih jelas, dapat merangkai kata sederhana, serta memahami makna. Meski begitu, usia pendekatan seperti yang disebutkan mungkin kurang pas bagi anak dengan kondisi spesial karena mereka membutuhkan metode belajar tersendiri. Persiapan sebelum Calistung Persiapan sebelum mengenalkan calistung pada anak. Membaca, menulis, dan berhitung atau calistung termasuk salah satu kemampuan kognitif yang perlu dikuasai anak-anak, merujuk Bintang Mulia Homeschooling. Oleh karenanya, banyak orang tua yang ambisius mengajarkan anak mereka sedini mungkin untuk menguasai calistung sebagai persiapan sebelum masuk ke tahap sekolah. Tapi perlu diingat bahwa proses mempersiapkan belajar calistung cukup kompleks. Banyak aspek yang harus benar-benar matang, termasuk kesiapan anak itu sendiri. Adapun sejumlah persiapan yang harus orang tua ketahui sebelum mengenalkan anaknya dengan calistung, di antaranya: Anak harus sudah jelas mengucapkan setiap kata-kata dalam keseharian. Apabila masih belum maksimal, sebaiknya tunda dan fokus memperbanyak interaksi sosialnya terlebih dulu. Pastikan anak sudah bisa memegang atau menjumput benda menggunakan tangan secara baik dan kuat. Ketika anak sudah dapat terampil dengan motorik halusnya, akan lebih memudahkan sang anak saat menerapkan teknik menulis.

Anak berusia 4-5 tahun umumnya mulai mengerti makna dan mampu mengungkapkan keinginannya dengan kalimat sederhana. Fase komunikasi ini penting supaya anak lebih mudah paham tentang konsep benda dan angka dalam berhitung. Apabila perkembangan anak normal, kemampuan dasar di atas dapat dimiliki secara baik ketika usia 6 tahun dan cenderung lebih siap menerima proses pembelajaran lebih lanjut.

Ada 7 Tips mengajarkan calistung pada anak agar kondisi belajar terasa menyenangkan. Mengajarkan arti calistung yaitu membaca, menulis, dan berhitung untuk anak-anak butuh trik tersendiri supaya menyenangkan serta tidak membosankan. Hal itu dapat diawali dengan Pertama, Kenali karakter anak terlebih dulu serta lihat reaksi mereka, apakah lebih suka belajar sendiri atau berkelompok. Kedua, Jangan memaksa anak karena berpotensi membuat mereka stres sehingga menjadi malas untuk melanjutkan belajar. Ketiga, Durasi belajar calistung tidak terlalu lama karena berkenaan dengan tingkat konsentrasi.  Keempat, Mulai dengan permainan yang membangkitkan semangat anak-anak namun dapat merangsang kemampuan anak, seperti menyusun mainan yang mereka minati sambil berhitung, merangkai huruf lewat puzzle, dan masih banyak lagi. Kelima, Belajar lewat lagu-lagu ceria supaya mudah diingat oleh anak. Keenam, Bisa melalui hiasan kamar atau ruang kelas yang mengusung tema calistung sehingga anak akan sangat akrab dengan hiasan tersebut. Ketujuh, Coba menulis dari tahap paling mudah, seperti menebalkan huruf, angka, atau mewarnai.

Ada dampak yang muncul dari proses belajar calistung terlalu dini, diantaranya adalah mempengaruhi semangat belajar dan mental anak. Dihimpun dari berbagai sumber, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru mengajarkan calistung. Sebab mengajarkan anak calistung sebelum waktunya atau sebelum masuk SD dapat merusak tatanan otak. Dalam artian, anak mengerjakan sesuatu tidak runut dan selaras. Anak-anak usia PAUD berada di fase atau masa pengenalan. Cukup belajar sambil bermain, bersosialisasi, serta memberikan aktivitas yang membuat anak siap baca, tulis, dan hitung (pra-calistung).  Di samping itu orang tua sebaiknya jangan terlalu khawatir apabila anak belum maksimal membaca, menulis, dan berhitung. Sebab setiap anak memiliki masanya masing-masing. Orang tua tetap boleh memperkenalkan arti calistung. Asalkan caranya menyenangkan dan tidak membuat anak merasa terbebani.

Ingat Anak-anak adalah jiwa merdeka, untuk itu jadilah orang tua pembelajar agar menjadi orang tua yang ideal dalam membersamai tumbuh kembang anak.