Menata Rupa Merdeka Belajar; Menimbang Ruang Belajar Merdeka Seni Pada Anak

by | Aug 3, 2022 | Opini

Pendidikan merupakan manivestasi dari proses belajar, bergerak, bermakna. Setiap berbicara bersinggungan prihal seni dan pendidikan, kita sering terperangkap, terjebak yang salah kaprah dan dibiarkan begitu lama, bahwasannya pendidikan seni hanya berkait dengan keterampilan saja, seni hanya sekedar pelajaran tambahan.

Padahal seni adalah pendekatan pendidikan yang sangat berarti. Pendidikan seni tidak terbatas pada minat dan bakat, yang beruntung dimiliki sebagian anak sejak kelahiran, tetapi diperlukan semua anak, karena mendasari kemampuan berempati dan memecahkan masalah, yang bermanfaat bagi semua profesi. Penelitian juga jelas mendukung penempatan seni sebagai disiplin yang terintegrasi ke kurikulum inti, bukan sekedar ekstra yang dilaksanakan setengah hati.

Mengapresiasi seni atau kreativitas berkarya seni adalah bagian sangat penting dari kehidupan  manusia. Namun kesenian atau pembelajaran kesenian di sebagian besar lembaga pendidikan kita adalah pengalaman yang sangat terbatas atau hanya pemenuhan dari kurikulum semata. Guru mengajar bermusik atau bernyanyi bukan untuk mengasah ritme atau jiwa musikalitas, akan tetapi hanya diharuskan pekerjaan, mengugurkan kewajiban.

Masa sekarang ini banyak siswa kita dengan nilai pelajaran seni “tertinggi” dari hasil sekedar penonton seni, tidak menjadi kreator seni. Ambil contoh; anak atau siswa kita lebih banyak menonton sinetron/FTV atau di sekolah kita lebih sering dipaksa dilakukan di lembar LKS daripada menganalisa latar belakang skenario yang ditayangkan atau memahami kaitan goresan lukisan dengan perubahan zaman. Pelajaran pendidikan seni di lembaga pendidikan kita lebih banyak yang pasif daripada aktif. Sangat minim dipraktikan dengan otentik di tempat publik dan pertunjukan.

Padahal begitu banyak kesempatan tersedia untuk terlibat dalam kegiatan seni di sekitar kita. Seperti  mendengarkan suara alam atau bahkan keheningan, memahami cerita batik yang kita kenakan dengan motif yang bercorak variatif, mendokumentasikan uniknya bangunan selama perjalanan, bisa dilakukan mudah dan murah oleh berbagai usia. Saat ini hampir tidak ada hambatan berkreasi, bahkan saat ini seni bisa dikolaborasikan menggunakan teknologi.

Sebenarnya semua guru bisa menumbuhkan kompetensi seni anak tidak terbatas pada guru seni bisa guru bidang ilmu di luar seni, semua orang tua juga bisa menjadi teladan mengapresiasi kesenian. Seni merupakan jalan untuk berbagai ilmu terhadap pemahaman mengenai pola, sikap berbudaya, pengetahuan keberagaman, keterampilan menarasikan gagasan. Semua kompetensi abad ini,  jadi jauh lebih mudah dicapai melalui berkesenian, karena kita secara alamiah tertarik pada keindahan. Walaupun lingkup keindahan dalam seni bersifat absurt, keindahan dalam seni itu akan menimbulkan rasa kepuasan dan berlanjut jiwa berkreasi

Seniman/pekerja seni/pegiat seni di sekitar kita mengalami pengalaman negatif tentang dunia pendidikan, karena apresiasi dan ekspresi yang menjadi ciri seniman sering terpenjarakan oleh sistem pendidikan. Butuh komitmen untuk mengatakan bahwa semua pendidik seharusnya punya tujuan mengembangkan kesenian. Sejarah membuktikan betapa kuat dan berharganya seni untuk menjadi penghubung dari banyaknya kemauan dan kepentingan di dunia ini. Seperti halnya peninggalan atau karya-karya seni Islami yang membuka wacana berbagai pihak tentang moderasi, cerita di layar yang menggerakkan hati jutaan orang untuk berefleksi dan melakukan aksi kemanusiaan, serta berbagi pola inovasi seni yang menjadi solusi bukti perkembangan pendidikan di negeri ini. Jangan biarkan anak-anak kita yang punya potensi untuk mencintai seni dan berkontribusi, menjadi anak-anak yang kesepian di rumah maupun sekolah kita sendiri. Aamiin…

by: Sjahidul Haq Chotib, M.Pd