LONG LIFE LEARNING

by | Jan 4, 2022 | Opini

Hari dapat berganti hari, bulan dapat berganti bulan juga tahun dapat berganti tahun. Kini Tahun 2021 telah berganti Tahun 2022. Namun keinginan tuk tetap belajar dan belajar tidak dapat digantikan dengan berhenti belajar, bahkan sebaliknya, meningkatkan, menggiatkan dan menantang diri untuk terus belajar menjadi lebih baik. Ya belajar itu harus berlangsung sepanjang hayat. Sebagai pribadi, kita perlu belajar memperbaiki diri terus dan terus belajar memperbaiki diri dari tiap kesalahan dan kekurangan. Sebagai orang tua, kita kudu terus memperbaiki cara-cara berinteraksi, berkomunikasi dan menjadi panutan buat anak-anak kita. Sebagai anak, kita tidak boleh berhenti untuk terus belajar berbakti kepada orang tua baik ketika mereka masih hidup maupun sudah meninggalkan kita. Sebagai pembelajar (pendidik) kita kudu terus belajar memperbaiki cara-cara membelajarkan (sincronus maupun unsincronus) dengan baik agar para pebelajar (murid) semakin mudah memahami, semakin termotivasi, terbahagiakan, terinspirasi  dan tertantang untuk berinteraksi aktif (I2M3) dalam suatu proses pembelajaran di tengah godaan digital games. Dan sebagai  pebelajar, kita kudu terus belajar menata waktu, memperbanyak referensi, mengulangi dan mengulangi materi yang dibelajarkan, mempraktekkan dan menjadikannya sebagai keahlian.

Terkait belajar dan mengajar (membelajarkan), tulisan ini selanjutnya mengajak kita untuk merenungkan kembali sebuah falsafah belajar dan mengajar yang pernah diutarakan oleh Prof Degeng. Dimana beliau mengilustrasikan ‘Belajar’ bagaikan air mengalir di sebuah sungai; ia tidak berhenti mengalir, selalu dinamis, penuh resiko tapi menggairahkan walaupun masih terdapat kekurangan, namun kreativitas, potensi, dan ketakjuban mengisi tempat itu. Sementara mengajar bagaikan “tukang bersih sungai”. Maka ia bertugas untuk membuat air mengalir bebas hambatan; mengangkat sampah yang membendungnya, mengangkat kotoran-kotoran lain, mengeruk lumpur, pasir dan memindahkan batu, kayu bagai seni rupa yang setiap goresannya  mencerminkan keindahan,. Terpancar ketulusan hati, kesetiaan, kemesraan, kesabaran, cinta, sukacita, improvisasi, dan pengendalian diri memenuhi pekerjaan itu.

Ungakapan tersebut terasa begitu keras menampar wajah kita sekaligus menyentuh hati kita selaku pembelajar atau pebelajar. Betapa tidak, tidak sedikit dari kita terjerembab dalam praktik pendidikan yang jauh dari sifat kearifan dan ketulusan. Betapa banyak tindak bullying dalam dunia pendidikan yang masih sering kita temukan dalam berbagai variannya atau bahkan terjadi pada diri kita sendiri selaku pembelajar atau pebelajar.

Ya belajar dan tetap belajar

Orang mungkin sering bertanya-tanya baik kepada orang lain yang dipandang mampu memberikan jawaban yang tepat atau bertanya pada diri sendiri, kenapa kualitas belajar kita masih jauh dari harapan? Yang selanjutnya menuntut kita pada pertanyaan Kenapa ketimpangan kualitas pendidikan masih terjadi antara satu lembaga dengan lembaga lain, lembaga di kota dengan di desa, lembaga swasta dengan negeri? Bukankah sudah sering adanya pergantian menteri pendidikan?

Terlepas dari itu semua, kita mesti jujur pada diri sendiri, bahwa kita (pembelajar) masih sangat jauh dari kata mampu menjadi pembelajar yang profesional dan baik.Toh tidak sedikit pula kita (para pembelajar) masih berperilaku seolah-olah diri kita sendiri yang paling tahu, paling bisa dan paling mumpuni dalam penguasaan materi dan cara-cara membelajarkannya, sebaliknya pebelajar dipandang sebagai sosok yang sama sekali tidak tahu, tidak bisa dan tidak mumpuni. Alhasil, para pebelajar dituntut menurut dan menerima apa saja yang disampaikan oleh pembelajar. Ironisnya, proses pembelajaran yang demikian terkadang diperkuat dengan pemanfaatan sumber-sumber belajar yang asal ada walaupun kita sudah berada pada era digital. Pun pula kita (selaku pebelajar) masih jauh dari menjadi pebelajar yang ulet, tekun dan gemar belajar. Kita sering menjauhi ruang kelas atau tempat berkumpul untuk belajar malahan asyik bergerumbul di comfort zone seperti cafe atau warkop. Berapa banyak buku referensi yang kita baca dan sumber belajar yang kita datangi untuk memperkuat dan memperdalam khazanah keilmuan kita? Semua itu, kitalah yang lebih mengerti jawabannya.

Kalau memang kenyataannya demikian, bagaimana dengan masa depan lulusannya? Bagaimana mereka akanbertahan dan survive dalam kuatnya pertarungan kehidupan di era informasi dan teknologi nanti? Bagaimana  merekaakan membuktikan diri mereka adalah sosok yang tangguh dan unggul?

Ya belajar dan tetap belajar sepanjang hayat kapanpun dan  dimanapun kita berada. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dalam proses belajar kita untuk menjadi pembelajar dan pebelajar yang lebih baik. Afwan.

Penulis;  Dr. Imam Azhar, M.Pd