PERLU PERLUASAN EDUKASI PUBLIK LEBIH GENCAR UNTUK TINGKATKAN INKLUSI SYARI’AH

by | Mar 22, 2018 | Berita

Ketua MUI Jatim KH Abdus Somad Buchori memberi sambutan acara Program Nasional Edukasi Keuangan Syariah (foto: doc sif)

Pembicara utama Dr. Ir. H Adiwarman Azwar Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P memberi paparan Program Nasional Edukasi Keuangan Syariah (foto: doc sif)

Peserta seminar bersama pembicara Program Nasional Edukasi Keuangan Syariah (foto: doc sif)

Kepala Perwakilan BI Jatim Difi Ahmad Johansyah dan perwakilan IAI TABAH (foto: doc sif)

Program Studi Ekonomi Syariah IAI TABAH Kranji Paciran Lamongan kembali dilibatkan dalam Program Nasional Edukasi Keuangan Syariah yang digagas Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  Program kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur ini dilaksanakan di Hotel Majapahit Surabaya, Rabu (21/03/2018).

Acara dibuka Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah, diikuti perwakilan dari kampus-kampus, pesantren dan ormas Islam se-Jatim. Hadir sebagai pembicara adalah Ketua MUI Jatim KH. Abdus Somad Buchari, wakil dari  OJK Evi Junita dan pembicara kunci Adiwarman Azwar Karim.

Dalam penjelasanya, KH Somad mengajak seluruh elemen umat Islam untuk menjalankan hidup berdasarkan syariah Islam, bukan saja dalam hal ibadah dan fashion atau berpakaian, tetapi juga dalam hal keuangan. Hadirnya lembaga-lembaga keuangan syari’ah seperti bank-bank syari’ah merupakan jawaban atas kebutuhan umat untuk menjalankan syariah di bidang keuangan.

“Kita umat Islam di Indonesia ini persentasenya 88,8 persen sehingga pemerintah wajib menfasilitas penghuni mayoritas bumi NKRI ini dengan yang dibutuhkan umat Islam, termasuk memasyarakatkan lembaga keuangan syariah. Alhamdulillah saat ini kita sudah menggunakan dual system keuangan yaitu konvensional dan syari’ah. Nah, yang syari’ah inilah yang harus dikenalkan kepada umat melalui program edukasi publik seperti ini agar umat terlibat aktif dalam membesarkan,”jelasnya.

Sementara itu, Evi Junita dari OJK dalam presentasinya terus berusaha mendorong tersosialisasinya lembaga keuangan syari’ah di tanah air. Saat ini, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2016 menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 29,6 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 67,82 persen. Angka tersebut meningkat dibanding hasil SNLIK pada 2013, yaitu indeks literasi keuangan 21,84 persen dan indeks inklusi keuangan 59,74 persen. Survei tahun 2016 mencakup 9.680 responden di 34 provinsi yang tersebar di 64 kota/ kabupaten di Indonesia.

“Anehnya di Jatim paling tinggi tingkat literasi keuangan syariahnya, yakni 29,35 persen. tetapi tingkat inklusinya hanya 12,21 persen. Sementara di Aceh tingkat literasi 21 persen tetapi tingkat inklusinya sebesar 41,45 persen, ujar Junita. Ini artinya orang Jatim sudah ‘melek’ keuangan syari’ah tetapi masih perlu mobilisasi dalam praktiknya. Harusnya, literasi dan inklusi berjalan seirama.

Sementara itu, Adiwarman Karim, dalam kesempatan terakhir memberi motivasi kepada peserta seminar untuk hidup lebih syar’i terutama dalam hal keuangan. Ia banyak menyampaikan pengalamannya sejak kuliah di Amerika hingga pendirian Bank Mualamat pada tahun 1992 sebagai bank syari’ah pertama. Kesimpulannya, hidup akan lebih mudah, lebih membahagiakan dan membawa berkah jika dijalani dengan landasan iman dan ihsan dalam Islam, salah satunya adalah dengan menerapkan hidup syar’i dalam hal keuangan.

Sarjana IPB dan FE UI yang mendapatkan pendidikan lanjutan di Amerika ini adalah anggota Dewan Syari’ah Nasional dan terlibat dalam mempersiapkan lahirnya Undang-Undang Perbankan Syariah. Ia adalah pakar dan pelopor perkembangan ekonomi syariah terkemuka. Melalui karya tulis di bidang ekonomi Islam dan kontribusi dalam perkembangan perbankan syariah di Indonesia, kini Adiwarman Azwar Karim juga dijuluki “Begawan Ekonomi Islam”.

Forum menggarisbawahi, bahwa perkembangan lembaga keuangan syariah masih belum maksimal mengingat dengan jumlah penduduk mencapai 88 persen tetapi indeks perkembangannya terkini masih di kisaran 5 persen. Hal ini seolah membenarkan sinyalemen tokoh pembaru Islam Muhammad Abduh bahwa perkembangan Islam lebih sering justru tertutup oleh umat Islam sendiri (al-islamu mahjuubun bin muslimin).

Menanggapi hal di atas, perwakilan dari IAI TABAH Kranji Paciran Lamongan memberi masukan kepada forum,7 bahwa  praktik Islam (non-ubudiyah) bahkan saat ini lebih terlihat di Negara non-muslim dan samar-samar tampak di 7 Negara berpenduduk 7 muslim. Bukan hanya praktik bersih, disiplin lebih tampak di Barat, bahkan keuangan syariah sedang diterima dengan gencar di Negara non-muslim.

Meski demikian, lanjut perwakilan IAI TABAH Kranji Paciran Lamongan, peluang membesarkan lembaga keuangan syariah di tanah air sangat terbuka. Menurut hasil riset ICMI (2017), kalangan umat yang berlebihan uang saat ini sedang gelisah dengan riba dan jawabannya adalah hadirnya lembaga keuangan syariah. Demikian juga kelas menengah umat papan atas banyak yang makin sadar (literate) dan mulai memilih hidup syar’i, terutama dalam hal mengatur keuangan.

Melihat trend masyarakat yang semakin mengarah bergaya hidup syar’i, dipastikan sumber daya insani (SDI) di bidang ekonomi syari’ah akan makin dibutuhkan di lapangan kerja sehingga jurusan ekonomi syariah di kampus-kampus diharapkan makin bersiap menyambut pasar kerja yang terbuka tersebut. (mjb/rif’ah)